Nama: Syifa Hamama
Nim: F1C004080
Tugas: TeknokomTelekomunikasi
Mengirim Data di Pedesaan
FASILITAS komunikasi makin dibutuhkan sejalan dengan kemajuan zaman dalam era informasi dan komunikasi makin tidak mengenal batas geografi. Namun, kendala alam juga turut menghambat penyebaran fasilitas telekomunikasi karena dengan cara konvensional lewat penggelaran kabel, tidak semua wilayah dapat terjangkau, khususnya di kawasan pegunungan, dan juga bahkan di tengah hutan dan lautan.
Radio, yang diimplementasikan dalam radio seluler, juga tidak bisa menjangkau semua lekuk-lekuk Bumi atau hamparan laut. Harus ada prasarana yang disebut base transceiver station (BTS) yang merupakan pemancar-penerima yang melayani pengguna fasilitas di sekitarnya. Mustahil membangun BTS di te- ngah hutan yang hanya diguna- kan sesekali, selain karena jangkauan BTS teresterial tidak luas, paling jauh 15 kilometer dengan antena payung.
Dunia mulai mengenal sistem komunikasi satelit sejak tiga puluhan tahun lalu dan Indonesia memiliki Satelit Palapa mulai dari generasi A tahun 70-an. Dengan satelit, tak ada satu jengkal wilayah dalam arena liputannya (footprint) yang tidak terjangkau, baik di darat, laut, maupun hutan rimba.
Namun, satelit komunikasi Palapa hanya dapat digunakan untuk komunikasi point to point antara satelit dan stasiun- stasiun Bumi. Umumnya satelit komunikasi seperti Palapa hanya memiliki transponder- transponder dalam band terten- tu, misalnya C-band, Ku-band, extended C-band, atau S-band. Frekuensi yang dipancarkan transponder ini tidak bisa ditangkap antena biasa, harus menggunakan antena piringan (parabola) dan besar parabola tergantung pula pada besar-kecilnya frekuensi yang dipancarkan.
Antena parabola untuk Palapa, atau satelit-satelit komunikasi lain, semisal AsiaSat, PanamSat, umumnya besar dengan garis tengah di atas satu meter. Sementara antena untuk S-band umumnya lebih kecil, di bawah 90 senti, seperti halnya antena parabola untuk Indovision, meski untuk fasilitas sama yang disiapkan TelkomVision, digunakan antena parabola besar karena menggunakan sarana satelit Telkom-1.
Di dunia sudah ada proyek- proyek ambisi yang menghadirkan hubungan komunikasi jarak jauh dengan antena satelit. Sistem komunikasi satelit ini memanfaatkan cara seluler. Hanya saja, jika sel-sel teresterial dipasang di muka Bumi, sel-sel satelit seluler dipasang di satelitnya.
Proyek-proyek ambisius tadi banyak yang hancur, bahkan mati sebelum berkembang. Minat masyarakat pengguna ternyata sangat minim, yang bahkan untuk membiayai operasionalnya saja kurang, jangankan untuk kembali modal.
Satelit-satelit itu lalu dihancurkan di langit atau diceburkan ke tengah lautan karena makin lama beroperasi, makin berat biaya yang harus ditanggung. Ratusan satelit yang beredar di atas Bumi mengalami nasib yang sama dan Bumi pun sunyi senyap kembali.
Pemikiran berikut adalah membuat BTS-BTS tetap di langit, tetapi tidak dipasang di sa- telit, melainkan di balon-balon yang diapungkan pada ketinggian tertentu. Belum ada kelan- jutan dari ide ini, apalagi ada tentangan kalangan penerbang- an yang melihat kemungkinan diapungkannya balon akan mengganggu jalur penerbangan.
DI antara proyek ambisius yang menyediakan fasilitas telekomunikasi tanpa daerah kosong (blank spot), yang masih hidup adalah Asia Cellular Satellite (ACeS) milik PT PSN. Jika lainnya sudah bergelimpangan, ACeS dari PT Pasifik Satelit Nusantara masih berjaya walau untuk mendapat pelanggan tertatih-tatih.
Padahal, komoditas yang mereka tawarkan bisa menyelesaikan masalah kelangkaan fasili- tas telekomunikasi di mana pun di Indonesia. Bahkan, sampai ke mancanegara dari Papua Niugini sampai Banglades, Cina, Jepang, dan Australia utara.
Berbagai produk sudah dimanfaatkan masyarakat, misalnya Byru yang menggunakan handset Ericsson R190 khusus untuk satelit dan GSM. Dengan Byru ini, di mana pun berada, penggunanya bisa dijangkau, baik di tengah hutan lebat, di lautan yang jauh dari mana-mana, maupun di perkotaan. Ketika di perkotaan, Byru memanfaatkan jaringan seluler dan PSN bekerja sama antara lain dengan PT Satelindo.
Ponsel Byru tidak besar, hanya saja antena satelitnya seper- ti belalai yang bisa ditukar dengan antena kecil kalau ada di jaringan seluler GSM. Memang Ericsson R190 tidak sekecil So- ny Ericsson T100, tetapi jauh le- bih kecil dibandingkan dengan Nokia 9210 Communicator.
Untuk kepentingan komunikasi kelautan, masyarakat juga bisa memanfaatkan Byru Mari- ne yang dikemas khusus untuk dipasang di kapal. Semacam Byru Marine ini malah sering dimanfaatkan orang perkebunan atau pejabat daerah yang pu- nya wilayah luas untuk dipasang di mobilnya sehingga ia bi- sa dihubungi di mana pun kecuali di bawah gedung atau dalam terowongan.
Masyarakat pedesaan, baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua, kini banyak yang memanfaatkan produk PSN yang lain, misalnya Pasti (Pasang Telepon Sendiri) yang kemudian dijadikan telepon umum. Dengan kemampuannya, Pasti telepon umum dikem- bangkan menjadi warnet, dioperasikan di tengah desa terpencil yang kadang kala hanya bisa dicapai lewat perahu atau berjalan kaki berhari-hari.
Menurut Rian Alisjahbana, Direktur Operasi dan Pemasaran PT PSN, Pasti yang selama ini hanya bisa untuk komunika- si suara kini sudah dapat digu- nakan untuk komunikasi data kecepatan rendah. Ini, katanya, sejalan dengan perkembangan teknologi informasi di Tanah Air yang mulai membutuhkan pengiriman e-mail, file, dan akses Internet dari mana pun.
Memang sudah ada fasilitas komunikasi data, namun hanya untuk daerah tertentu di perkotaan, dan kalaupun ada, belum bisa memenuhi skala ekonomis jika diselenggarakan di daerah remote. Kemampuan mengirim data dari Pasti memang belum tinggi sehingga tidak bisa dibandingkan, misalnya, dengan GSM generasi 2,5 atau dengan CDMA.
Tahapan pertama Pasti generasi baru ini hanya mampu mentransmisikan data sampai 2,4 kbps, tetapi sudah bisa memenuhi kebutuhan untuk pengiriman e-mail dan akses Internet atau intranet. Tampaknya, Pasti dengan kemampuan pengiriman data ini akan sangat berguna jika dimanfaatkan oleh Komisi Pemilihan Umum.
Kata Product Manager Pasti Riko Rangkuti, untuk bisa mengakses fasilitas itu, perangkat Pasti yang baru membutuhkan kabel khusus dan driver modem sebagai aksesori. Pasti generasi baru dengan kemampuan transmisi data itu bisa dihubungkan dengan komputer (PC), notebook, atau personal digital assistance (PDA).
Sistem operasi yang mendukung perangkat Pasti generasi baru ini antara lain Microsoft Windows 98, Windows NT, Windows 2000, dan Windows CE. Proses komunikasi data tak beda dengan proses koneksi dial up pada umumnya, dan penggu- na dapat dial up ke internet ser- vice provider (ISP) atau ke remote access server (RAS) intranet. (HW)
Search :
Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS
Bapak, Ibu, Awas Dampak Media (TV)...!
Kekerasan, kriminalitas, dan perilaku antisosial kini makin populer karena media massaKakak ipar saya, yang tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bercerita dengan mimik cemas. Anaknya yang baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak suatu hari, tanpa ada angin dan hujan, melontarkan pertanyaan yang menyentak. “Bunda, kalau bunuh diri itu kan bisa dengan menyilet tangan, kan?” tanyanya dengan lugu sambil mempraktikkan caranya. Selidik punya selidik, si anak bercerita kalau teman-temannya di sekolah pun sering beraksi main “bunuh diri-bunuh dirian” dengan cara bergaya seolah menyilet nadi di tangan, kemudian ambruk ke tanah. Mereka mengaku sering melihat adegan itu di televisi.
Cerita itu tampaknya sejalan dengan ramainya kasus kanak-kanak dan remaja mengakhiri hidup dengan bunuh diri, atau setidaknya mencoba bunuh diri. Baru-baru ini seorang anak bunuh diri di Tangerang, karena diminta ibunya tidak melanjutkan sekolah akibat ketiadaan biaya. Dulu, ada Linda Utami, yang nekad gantung diri di kamar tidur rumahnya di Jalan Nipah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia baru berusia 15 tahun, duduk di kelas II SLTP. Penyebabnya, malu diejek temen-temennya karena tidak naik kelas. Atau, Nurdin bin Adas yang baru berumur 12 tahun. Warga Kampung Cikareo, Desa Salakuray, Garut, itu ditemukan tewas tergantung di plafon dapur rumah kakaknya. Konon, Nurdin tak kuat menahan kerinduan kepada almarhumah ibunya. Masih kurang? Ada Nazar Ali Julian, 13 tahun. Anak yang dikenal rajin dan tergolong pandai ini rajin ke masjid, shalat, dan puasa Senin-Kamis. Tetapi suatu ketika ia masuk ke dapur, mengambil pisau dan menusuk perutnya berulang kali hingga bersimbah darah. Ia kesepian karena orang tuanya bekerja di luar negeri.
Selain bunuh diri, muncul pula kasus perbuatan tak senonoh kepada lawan jenis oleh kanak-kanak dan remaja. Juga mencuri kecil-kecilan, minum-minuman keras, sikap agresif dan penuh kekerasan, hingga penggunaan narkoba dan pembunuhan. Kebanyakan dari mereka, ketika diusut dan ditanya asa-muasal ide melakukan kejahatan atau perbuatan asosial lainnya tersebut menjawab, karena sering menonton hal sama di televisi. Untuk orang dewasa, efeknya sudah lebih dahulu banyak diketahui. Banyak pelaku kejahatan, misalnya, mengaku mendapat ilham merampok dari tayangan televisi atau pemberitaan di majalah.
Memang, kejahatan dan kekerasan yang terjadi tidak melulu karena efek media. Ada banyak faktor lain yang berpengaruh, mulai dari tingkat pendidikan, pendapatan, kondisi geografis, dan sebagainya. Akan tetapi, media tetap punya andil yang tidak kecil.
Efek Media
i sekeliling masyarakat kini banyak bertaburan jenis media komunikasi yang dengan gampang menghujani setiap individu dengan berbagai ragam informasi, mulai dari televisi, radio, surat kabar, majalah, hingga internet, hingga peralatan komunikasinya seperti ponsel dan komputer. Langsung atau tidak, hal itu akan berpengaruh terhadap penggunanya.
Di kalangan praktisi komunikasi, hal itu dikenal populer sebagai efek dari media. Pakar komunikasi Yoseph Straubhaar dan Robert LaRose, misalnya, menjelaskan efek media sebagai perubahan dalam pengetahuan (kognisi), sikap, emosi, atau perilaku yang merupakan hasil dari terpaan (eksposure) media massa.
Untuk meneliti efek ini, banyak cara dan metode yang telah ditempuh oleh para pakar. Ada yang menggunakan model pemikiran deduktif, yakni prediksi tentang dampak media dari teori-teori tentang perilaku dan budaya manusia, kemudian secara empirik menguji prediksi ini lewat pengamatan yang sistematis. Sebaliknya, penelitian induktif melakukan observasi terlebih dulu, baru kemudian memunculkan teori.
Ada pula pendekatan administratif versus kritikal. Riset administratif menggunakan institusi media sebagai obyek dan mendokumentasikan penggunaan serta efek yang dihasilkan oleh media tersebut. Sementara riset kritikal mengkritisi institusi media itu dari perspektif cara melayani kelompok-kelompok sosial dominan dalam masyarakat. Di sisi lain, dikenal penelitian kuantitatif versus kualitatif. Metode kuantitatif menghitung penemuan yang ada dan menganalisis hubungan secara statistik antara variabel independen dan dependen. Adapun metode kualitatif dilakukan anara lain dengan mempelajari simbol-simbol dalam konten/isi media atau mengamati perilaku dalam setting alami.
Salah satu jenis penelitian adalah dengan analisis isi media. Ini merupakan deskripsi kuantitatif terhadap isi media dengan sampel sistematik isi media tersebut. Peneliti melakukan pendefinisian obyektif untuk mengklasifikasikan kata-kata dalam media, gambar, dan tema yang diangkat. Analisis isi ini menghasilkan profil detil media yang diteliti dan mengidentifikasi kecenderungan isinya dari waktu ke waktu. Yang terkenal, misalnya, analisis isi mengenai tayangan kekerasan di TV oleh Federman (1998), yang meneliti program 23 TV kabel di Amerika selama tiga musim penyiaran.
Selain contoh-contoh di atas, ada pula riset eksperimental yang melakukan studi tentang efek media dalam bentuk uji coba. Biasanya ini dilakukan dengan menguji suatu kelompok kecil dengan tampilan media dengan kandungan isi tertentu. Albert Bandura pada tahun 1965 meneliti anak usia prasekolah dengan mempertontonkan mereka adegan seorang aktor cilik yang agresif memukuli boneka model. Ia lalu melihat respon subyek penelitian. Hasilnya, setelah tayangan selesai dan kanak-kanak itu bermain dengan boneka yang sama, tindakan agresif serupa mereka perlihatkan dengan memukuli boneka tersebut
Dalam teorinya, dampak media dapat dilihat dari berbagai pendekatan. Yang paling terkenal adalah teori Jarum Suntik (hypothermic needle) yang juga disebut sebagai model peluru (bullet theory). Teori ini menyatakan bahwa pengaruh kuat media massa itu sama halnya seperti peluru atau jarum suntik yang diinjeksikan kepada audiens. Jika penonton menyaksikan tayangan aksi perampokan, di benaknya akan tertancap dengan dalam bentuk aksi tersebut. Contoh lain adalah iklan shampoo. Dengan berbagai eksploitasi keunggulan dan iming-iming, maka iklan ini akan melekat di benak penonton. Walhasil, ketika mereka belanja dan melihat produk tersebut, mereka langsung ingat keunggulan yang digembar-gemborkan, lalu membelinya.
Barangkali banyak di antara kita yang mengalami bagaimana anak-anak menjadi takut ke kamar mandi di waktu malam, atau menjerit histeris saat mati lampu. Dalam bayangan mereka, di dalam situasi seperti itu pastilah ada makhluk gaib yang akan mendatangi. Pemahaman ini muncul akibat tayangan yang mereka saksikan. Pandangan sang anak tentang suatu hal di dunia nyata mengadopsi apa yang disampaikan oleh televisi. Teori ini disebut dengan teori kultivasi.
Agenda Setting dan Katarsis
Suatu ketika, koran-koran, radio, dan televisi ramai-ramai meliput tentang perseteruan antara “Ratu Ngebor” Inul Daratista dengan “Raja Dangdut” Rhoma Irama. Begitu gencarnya, sehingga penonton atau pembaca punya kesimpulan dalam benaknya bahwa perseteruan itu benar-benar hal penting dan patut diketahui khalayak. Padahal, sesungguhnya, apa sih nilai berita tentang perseteruan seseorang yang mencari nafkah dengan menjual bokongnya? Tetapi karena semua media memuatnya, maka khalayak lama-kelamaan menganggap masalah ini memang pantas diangkat.
Contoh di atas adalah salah satu konsep yang disebut agenda setting. Dalam konsep ini, pemahaman audiens dalam menerima suatu berita berproses. Mereka menganggap suatu kabar menjadi penting karena cenderung mengikuti apa yang media massa liput dan anggap penting.
Berlawanan dengan beberapa teori di atas, ada Hipotesis Katarsis yang menyatakan bahwa tayangan dan berita seks serta kekerasan pada media sesungguhnya memiliki efek positif. Menurut hipotesis ini, berita tersebut memungkinkan orang merasa lebih rileks dan terhibur lewat perantaraan dunia fantasi. Misalnya, menurut teori ini, kalau anda suntuk tidak mendapat pekerjaan, atau uang di kantor cekak, lalu membaca berita syur di koran atau majalah, setidaknya anda akan lupa dengan problem yang tengah hinggap (hehehe, teori gile, tapi saya kutip supaya semua tahu, ada teori macam begini).
Perilaku Antisosial
Yang dimaksud dengan perilaku antisosial adalah perilaku yang berlawanan dengan norma-norma sosial yang berlaku. Media amat berperan menampilkan tayangan yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku tersebut, antara lain. Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah tayangan kekerasan. Efek kekerasan, khususnya dari tayangan televisi, menarik banyak minat peneliti, terutama efek pada anak-anak. Ini dikarenakan anak-anak sukar membedakan antara tayangan film dan kejadian sehari-hari di alam nyata.
Seorang kenalan di Bogor bercerita bagaimana ia kini mencegah anaknya menonton film kartun “Tom and Jerry”. Pasalnya, si anak sering melakukan tindakan berbahaya dengan berusaha melompat dari atas lemari atau meja ke lantai. Ia rupanya ingin meniru adegan Tom sang kucing yang jatuh terhempas lalu gepeng, kemudian kembali seperti sedia kala.
Ada pula perilaku prasangka, seksisme, rasialisme, dan segala bentuk intoleransi lainnya yang kerap dipromosikan media. Tayangan media kerap mendorong pen-stereotipe-an, terbentuknya generalisasi terhadap sekelompok orang tertentu akibatnya kurangnya informasi. Stereotipe ini bisa berbahaya jika mereka yang dipengaruhi akan terasionalisasi hingga bertindak tidak adil pada kelompok lain. Orang negro, misalnya, diidentikkan dengan pemalas dan suka bertindak kriminal. Orang Amerika Latin digambarkan senang berpakaian norak. Orang kulit putih biasanya cerdas dan kuat. Sementara di dalam negeri, orang Batak terlanjur diasosiasikan bersuara keras, tidak tahu sopan santun, dan berprofesi sebagai, maaf, tukang copet. Sementara Cina diidentikkan dengan manusia licik dan tukang mengeruk untung. Banyak contoh stereotipe lain, seperti penggambaran bahwa wanita itu lemah dan pasif, sementara pria itu kuat dan agresif.
Khusus media televisi, terdapat suatu hasil penelitian yang menarik antara menonton TV dengan prestasi di sekolah. Meski tidak terlalu kuat, diduga ada sedikit hubungan negatif antara keduanya. Remaja yang banyak menonton TV cenderung kurang berprestasi di sekolah dibandingkan rekannya yang sedikit menonton. Dari sebuah studi pada lebih dari 600 siswa kelas 6 hingga 9 di Amerika, diketahui bahwa pada penggemar berat TV memiliki skor tes kosa kata dan bahasa yang cenderung lebih rendah dibandingkan rekannya yang sedikit menonton.
Seks dan Media
Perilaku antisiosial lain yang juga mengancam khalayak adalah tentang masalah seksual. Seks dalam media menjadi isu hangat sejak tahun 1920-an, terutama di Amerika Serikat, setelah adanya skandal seks di Hollywood. Jika dulu Hollywood, yang menjadi pusat perfilman Amerika, ketat dalam sensor dan mencegah adanya perilaku seks, pada dekade terakhir ini tingkat tayangan pornografi melesat tinggi lewat majalah, TV, video, dan internet. Pada saat sama, norma-norma sosial perlahan mulai permisif dan mentoleransi hal-hal semacam itu. Penelitian menunjukkan, pria yang terekspose materi pornografi ternyata bersikap dan perilaku negatif terhadap wanita. Bukankah sudah kerap muncul berita bahwa seorang lelaki berbuat tidak senonoh pada perempuan karena alasan terangsang sehabis menonton film porno?
Tindakan penyalahgunaan obat-obatan juga menjadi masalah pelik saat ini. Ini terjadi lewat penayangan iklan atau program yang menyertakan obat-obatan, minuman keras, rokok, dan sebagainya. Barang semacam ini, meski beberapa dilarang tayang langsung dalam iklan, mempengaruhi pemirsa untuk konsumtif dan mencobanya.
Komputer, Antisosial
Dampak komputer sebagai media baru ini, juga internet, tak kalah seriusnya. Salah satunya adalah perilaku antisosial, misalnya yang ditimbulkan akibat permainan video game yang banyak berisi adegan kekerasan. Internet juga membawa materi pornografi yang dapat diakses bebas oleh setiap pengguna (pada kesempatan lain, saya akan postingkan tulisan khusus mengenai video game, menarik kok... hik hik hik, promosi ni yee).
Para ahli kini banyak meneliti gejala “computer anxiety”, yaitu dampak karena penggunaan komputer yang berlebihan, yang dikenal pula dengan nama cyberphobia dan computerphobia. Gejala ini berupa ketakutan akan computer karena berbagai efek buruk dari penggunaannya. Sebaliknya, ada pula yang kecanduan internet (internet addict), yakni orang penggila berat penggunaan internet. Ia menjadi tidak bisa lepas dari komputer, berulang kali mengecek e-mail, dan khawatir ditinggal teman-temannya di komunitas maya tersebut.. Malah di Amerika kini ada yang kecanduan akan judi online (online gambling addict).
Perilaku Prososial
Begitu pun, tidak berarti media komunikasi saat ini punya efek buruk 100 persen. Sesungguhnya, media tersebut juga menyediakan sarana agar penonton atau pembaca dapat dipengaruhi untuk berperilaku prososial, yakni perilaku yang memiliki nilai sosial dan dianjurkan, merupakan kebalikan dari antisosial.
Televisi dapat digunakan salah satunya sebagai wadah kampanye informasi yang memanfaatkan teknik kehumasan dan periklanan untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan perilaku prososial. Kampanye ini dapat menggunakan social marketing sebagai suatu pendekatan komunikasi yang terpadu. Misalnya, memperbanyak tayangan ceramah dan siraman rohani seperti acara Aa Gym, diharapkan bisa menarik perhatian pemirsa dan membuat mereka menikmati isinya. Ajakan hidup sehat di surat kabar dan anjuran menanam sejuta pohon dalam rangka Hari Lingkungan juga merupakan salah satu keuntungan yang diperoleh dari adanya media.
Media massa seperti TV juga dapat digunakan sebagai sarana pendidikan jarak jauh (distance education). Ini sudah banyak dilakukan di luar negeri. Tujuannya, tak lain untuk membuat pendidikan menjadi lebih dapat diakses oleh berbagai kalangan yang tak punya kesempatan belajar di sekolah atau tempat kursus. Di Indonesia, hal itu sudah dilakukan dalam skala tertentu, misalnya lewat program panduan masak-memasak di televisi. Atau, tips dan trik merawat komputer di lembar khusus surat kabar harian, dan lain-lain. Bahkan di internet, kini hadir apa yang disebut virtual university.
Bahkan iklan-iklan, yang disebut sebelumnya ‘meracuni’ pikiran penonton, masih punya sisi positif. Setidaknya, dengan banyaknya iklan, konsumen menjadi lebih peduli terhadap adanya produk-produk alternatif yang menciptakan persaingan bagi produk yang sudah ada, sehingga membuat harga terdorong turun.
Efek lainnya
Penggunaan TV ternyata dapat menurunkan keterlibatan masyarakat, karena orang lebih suka duduk di depan layar kaca daripada harus hadir di rapat kelurahan, misalnya. Masyarakat virtual di internet juga bisa menggantikan hubungan tatap muka yang selama ini terjadi, sehingga orang mulai malas berkunjung. “Toh bisa chatting di internet, atau kirim SMS,” kilah sebagian orang.
Internet dalam beberapa hal mengakibatkan depresi dan isolasi sosial bagi para penggilanya. Tetapi hal ini masih menjadi perdebatan hangat. Pasalnya, survei lain mengatakan bahwa internet ternyata tidak punya dampak siginifikan pada keterlibatan sosial nyata. Artinya, para netter tidak harus menjadi seseorang yang asosial, mengingat mereka tidak saja menciptakan teman di dunia cyber, tapi juga mengubah teman cyber-nya menjadi teman dalam dunia nyata.
Dari segi kesehatan dan lingkungan, penelitian menyebutkan pengaruh menonton TV terhadap kegemukan bagi anak. Juga, film kartun yang aneka warna menyala membuat sindrom pada penglihatan anak dan membuat mereka tak sadar serta tak terkontrol dalam sesaat. Demikian juga radiasi VLF (very low frequency) dari alat-alat elektronik bisa menimbulkan ancaman kesehatan. Radiasi telepon portabel/ponsel disebut-sebut dapat menimbulkan kanker otak, juga radiasi elektromagnetik sistem microwave dan satelit mempengaruhi kesehatan jaringan tubuh. Sementara penggunaan komputer yang sering dapat menimbulkan cedera dan stres. (ahmad husein)
http://duamata.blogspot.com/2005/02/bapak-ibu-awas-dampak-media-tv.html
KOMUNIKASI RADIO DAN KEADAAN DARURAT
PADA era informasi yang kita alami saat ini, bermacam sarana telekomunikasi berkembang sangat pesat dan dengan mudah kita dapatkan. Dari telepon kabel, seluler, hingga satelit berkembang dengan pesatnya sehingga kita dengan mudah bisa menikmatinya. Sementara itu, keadaan yang sebaliknya terjadi pada perkembangan komunikasi radio, yang seakan semakin terpinggirkan sehingga sedikit yang memanfaatkan sarana komunikasi yang pernah mempunyai peran penting pada era tahun 40-an ini. Khususnya komunikasi radio pada band HF (high frequency, 3-30 MHz) dan VHF-rendah (very high frequency, 30-50 MHz) semakin sedikit orang mengenal dan menggunakannya. Namun, sesungguhnya masih banyak kegunaan dari perangkat komunikasi marjinal tersebut.
Gelombang radio pada frekuensi 3-50 MHz dapat dipantulkan oleh lapisan ionosfer, suatu lapisan yang terbentuk dari ion dan elektron pada ketinggian sekitar 60 km sampai dengan 600 km di atas permukaan bumi. Dengan pemantulan oleh lapisan ionosfer ini, maka komunikasi radio pada band ini bisa mencapai jarak lebih dari 2.000 km tanpa perangkat pemancar ulang (repeater). Ini berbeda dengan komunikasi pada band VHF-tinggi (50-300 MHz) dan UHF (300-3.000 MHz). Untuk mencapai jarak yang jauh, maka komunikasi pada band ini memerlukan perangkat repeater, dan untuk band orde gigahertz (lebih dari 1.000 MHz) bisa memanfaatkan satelit sebagai "pemantul" dan "penguat" buatan. Dikarenakan komunikasi radio pada band HF dan VHF-rendah memanfaatkan lapisan ionosfer sebagai pemantul, propagasi gelombangnya akan sangat bergantung pada kondisi lapisan tersebut. Pada saat kondisi ionosfer baik dan frekuensi kerja yang digunakan sesuai dengan kondisi lapisan tersebut, maka peluang keberhasilan komunikasi juga besar sehingga komunikasi radio menjadi lebih optimal. Sebaliknya pada saat kondisi lapisan ionosfer burukdan pemilihan frekuensi kerja yang kurang tepat, maka peluang keberhasilan komunikasi menjadi rendah dan kemungkinan kegagalan juga akan sering terjadi. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan penggunaan komunikasi radio tersebut, diperlukan informasi prakiraan kondisi lapisan ionosfer yang terjadi pada saat berkomunikasi.
Sampai saat ini telah cukup banyak program prediksi propagasi gelombang radio HF dan VHF-rendah yang telah dibuat dan dapat diperoleh dengan harga yang relatif murah dan bahkan ada yang gratis di-download melalui jaringan internet. Selanjutnya, perangkat radio komunikasi dapat diperoleh dengan harga dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Jika dilihat dari segi jangkauan komunikasi dan biaya operasionalnya, sebetulnya perangkat radio komunikasi relatif murah. Tanpa beban pulsa seperti penggunaan telepon pada umumnya, pembicaraan melalui komunikasi radio bisa menjangkau jarak yang cukup jauh, sebanding dengan telepon interlokal bahkan internasional. Hal seperti ini tentunya merupakan hal positif dan akan menghemat biaya operasional yang tidak sedikit. Bahkan, perkembangan teknologi modem yang terjadi saat ini memungkinkan pengiriman paket data (bukan suara) menggunakan perangkat radio komunikasi ini walaupun kecepatannya masih rendah.
BAGAIMANA dalam kondisi darurat? Dalam keadaan darurat seperti halnya di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada saat terjadi bencana alam gempa bumi dan tsunami saat ini, kita ketahui hampir seluruh infrastruktur di bumi "Serambi Mekkah" ini hancur, termasuk sarana telekomunikasi. Padahal, pada saat bersamaan diperlukan sarana komunikasi untuk melakukan koordinasi penanggulangan korban bencana. Memang telepon satelit banyak disebut-sebut dan digunakan untuk mendukung koordinasi penanganan bencana, namun penulis yakin aparat kepolisian dan TNI banyak terbantu oleh perangkat komunikasi radio yang dipunyai. Bahkan, penulis yakin, banyak pula rekan-rekan dari Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI) yang dengan peralatan radionya berperan dalam kegiatan kemanusiaan seperti ini. Barangkali inilah kondisi riil yang ada, komunikasi radio masih mempunyai peran yang cukup penting, namun semakin kurang diperhatikan dan semakin ditinggalkan.
Mengingat kondisi alam Nusantara dengan berbagai potensinya, termasuk potensi bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan gunung meletus, maka perlu dipertimbangkan sarana pendukung penanggulangan bencana yang lengkap. Baik sarana komunikasi modern dan canggih maupun perangkat komunikasi marjinal seperti radio. Di negara maju seperti Amerika Serikat sekali pun, komunikasi radio masih diperhatikan dan merupakan salah satu sarana komunikasi survival yang banyak digunakan oleh badan penanggulangan bencana. Di dunia pelayaran dan penerbangan, perangkat komunikasi ini masih merupakan keharusan untuk kapal maupun pesawat terbang. Kemudian wilayah negara Indonesia yang luas dengan medan yang berat juga menjadi salah satu penyebab lambatnya perkembangan pembangunan sarana dan prasarana telekomunikasi di negeri ini, yang jauh di bawah negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, bahkan Vietnam. Bukan hanya perkembangannya yang lambat, tetapi juga pemerataan pembangunannya juga belum terjadi.
Di satu sisi perkembangan telekomunikasi di Pulau Jawa dan kota-kota besar di luar Jawa bisa dikatakan sangat pesat, namun masih banyak daerah-daerah terpencil dan terisolasi, dan tentu saja belum terjamah sama sekali oleh sarana telekomunikasi. DARI kegiatan sosialisasi yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pada tahun 2004, terungkap informasi bahwa masih ada daerah terpencil di negeri ini yang masih mengandalkan komunikasi radio. Ini masih lumayan, masih ada daerah yang sama sekali belum memiliki alat komunikasi radio sekali pun, apalagi sarana telekomunikasi seperti telepon kabel atau seluler. Sungguh sangat berat membangun wilayah Nusantara yang demikian kondisinya. Dan, ini harus kita sadari sepenuhnya. Dari segi biaya, maka diperlukan modal dan investasi yang tidak kecil untuk membuka dan menghubungkan seluruh wilayah Nusantara ini melalui telekomunikasi. Belum lagi masalah sumber daya manusia (SDM), khususnya di bidang telekomunikasi dan informasi, yang masih sangat kurang dan masih terbatas kemampuannya. Jadi, wajarlah jika beberapa waktu lalu seorang menteri menyiratkan rasa pesimistis untuk menyongsong era masyarakat informasi tahun 2015 yang telah menjadi komitmen kita. Kondisi demikian sungguh memprihatinkan dan perlu dicari strategi dan kebijakan yang tepat untuk menanggulanginya.
Karena itu, sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan tiga hal berkaitan dengan komunikasi radio. Pertama, untuk membuka isolasi daerah terpencil, maka pemerintah kabupaten atau kecamatan sebaiknya mengaktifkan kembali sarana komunikasi radio yang sudah ada atau mengadakannya bagi yang belum memiliki. Kedua, sebaiknya pemerintah kabupaten dan kecamatan "menempatkan" sarana komunikasi radio sebagai sarana komunikasi survival yang harus ada dan siap digunakan setiap saat diperlukan, seperti yang berlaku di TNI dan kepolisian. Ketiga, pemerintah kabupaten dan kecamatan sebaiknya meningkatkan kemampuan SDM-nya di bidang komunikasi dan informasi melalui jalinan kerja sama dengan lembaga penelitian maupun perguruan tinggi. Tentu saja semua itu tidak akan berjalan tanpa koordinasi, dukungan, dan peran serta pemerintah pusat dan kita semua. Semoga. Sumber: Kompas (4/2/05) Jiyo Harjosuwito-Peneliti Lapan-Bandung *rc
Humas
Tel. (021) 316 8200 Fax. (021) 390 4573
E-mail: humas@bppt.go.id Admin
Tel. (021) 316 8440, 316 8441, 316 8438, 316 8432
E-mail: pdis@webmail.bppt.go.id
http://www.bppt.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1511&Itemid=30
Nomor 36, Tahun VII, April 2001