Yahoo! 360° News | Beta Feedback
Start your own Yahoo! 360° page

Bagoes

Top Page  |  Blog  |  Feeds  |  Friends  |  Lists

  • Work: Basutama Business Consultant
  • School: Indonesian Islamic University

Add

Bagoes is not connected to you in Yahoo! 360°.

Last updated Wed May 16, 2007 Member since September 2006

Selalu berikan yang terbaik, maka Anda akan diberi yang terbaik. Reply

1 - 5 of 7 First | < Prev | Next > | Last

Bagoes's Consulting Full Post View | List View

Business management is a simple thing but not as simple as turning your palm. It could be learned with logic.

Mengurai Strategi Operator Seluler 2

Tidak terasa sudah lebih dari setengah tahun 360' saya ini terlantar. Melanjutkan perbincangan kemarin mengenai strategi operator seluler, kali ini akan membahas mengenai promosi dengan perang tarif.

Selama setengah tahun ini sudah banyak terjadi perubahan dalam tarif bicara maupun sms. Jadi bila sekarang saya bicara masalah nominal sepertinya akan banyak tidak sesuai dengan tarif yang sekarang.

Kita sering melihat spanduk atau baliho yang menyatakan bahwa operator A lebih murah, operator B paling murah, operator C yang termurah dan sebagainya. Promosi yang sangat menarik bagi saya karena dompetnya tipis. Eh, di televisi juga ada ding. Maklum jarang nonton tipi.

Tapi waktu saya bertanya ke gerai hp, disana dijelaskan dengan panjang lebar. Maklum yang punya masih temen. Bahwa sebenarnya sama saja. Hanya memindahkan bill ke menit yang lain. Lho kok? Maksudnya?

Gini, dia jelaskan lagi, misalkan sebelum ada gratisan, semua menit flat di nominal tertentu. Lalu ketika ada gratisan, ngamatin ga kalau tagihannya pindah ke jam lain? Contohnya, paket gratis ngobrol sama drakula di jam 11 nyampe 4 pagi. Wow, selama puasa pasti programnya dihentikan. Lah orang bakal telpon nungguin sahur daripada tidur. Betul?

Kalau bukan bulan puasa dijalanin, siapa yg kuat ngobrol sampe pagi kalau paginya kerja atau sekolah. Ini baru itung-itungan jam lho. Saya hanya termangu dan mengangguk saja. Tapi dia jelasin lagi dengan semangat.

Pernah denger yang model 3 menit pertama, 3 menit kedua dan seterusnya? Nah, itu juga teaser lho. Dia menggoda untuk diambil. Padahal ada teorinya lho.

Teori gimana? Tanyaku

Gini. Secara penulisan memang tidak ada yang salah dengan iklan itu. Namun secara deret hitung, ada missing link disitu. Lihat, jika diganti 3 menit pertama jadi1 dan 3 menit kedua jadi 2, maka yang kita baca adalah 1, 2, dan seterusnya. Asumsi kita yang baca, itu berarti 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan seterusnya. Betul? Padahal yang bener 1, 2, 1, 2, 1, 2, 1, 2, dan seterusnya. Lucu ga tuh?

Wah, makasih pencerahannya. Hampir terjerumus ke jurang nih.

Eit, tunggu dulu. Masih ada lagi. Cara penghitungan menit juga seringkali tidak realistis lho. Misalnya pake detik. Rp. 1/detik misalnya. Atau selama 200 detik. Jam yang ada sekarang ini yang pake detik kan udah jarang banget. Gimana ngitungnya tuh? Buat peer aja sana.

Weleh, kok ngusir.

Bukannya ngusir. Cuman kamu disini juga ngapain. Hehehe.

Halah. Tapi kamu kan jualan pulsa sama perdana nih. Kok malah cerita kaya gitu?

Gini. Posisi jualan gini terjepit. Asal tahu saja ya, operator nekan dengan nuntut penjualan tinggi, tapi harganya dinaikin. Lalu dari yang belinya minta diskon. Kalo semua yang beli kaya kamu bisa tekor nih. Hahaha.

Hahaha. Oke deh klo gitu. Begitulah hasil "wawancara" sama tukang jualan pulsa.

Mengurai Strategi Operator Seluler 1
Sebagai operator seluler ternyata memiliki banyak perbedaan dengan bisnis yang lain. Keuntungan bagi operator seluler tidak hanya dari penjualan nomor kartu sim baru namun juga dari penjualan voucher isi ulangnya. Berbeda dengan bisnis retail yang hanya mengandalkan penjualan barang-barang baru, sementara pelanggan lama akan tetap ditawari produk yang baru.

Bisnis retail yang jeli melihat peluang juga dapat mempertahankan konsumen lamanya dengan produk isi ulang untuk produk yang diperhitungkan habis dalam jangka waktu tertentu. Namun bisnis retail dapat memberikan kebebasan kepada konsumennya untuk menentukan apakah akan membeli produk baru atau hanya isi ulangnya. Seperti sabun mandi misalnya dapat ditemukan produk isi ulang dalam kemasan yang dapat dibuang.

Operator seluler bila dipikirkan secara sederhana dapat dengan mudah meningkatkan pasarnya dengan menjual murah kartu sim perdananya. Namun akibat lebih murahnya kartu perdana akan membuat konsumen lebih suka untuk membeli perdana daripada isi ulang. Lebih jauh lagi, daftar pelanggan akan membesar karena didasarkan pada nomor yang diaktifkan.

Bila dipikirkan dalam bentuk yang lebih mendalam, operator seluler merupakan sebuah bisnis yang mendasarkan pada layanannya. Baik customer servicenya, layanan jaringannya, fitur-fitur pendukungnya, bahkan kemudahan isi ulangnya. Sebuah operator seluler yang baik tidak hanya memiliki keunggulan dalam satu bidang saja, namun berupaya untuk meningkatkan layanan lainnya.

Apakah kita pernah mempertimbangkan tidak hanya satu sisi saja dalam memilih operator seluler? Silakan berkomentar.
Apa yang pertama kali menjadi pertimbangan Anda ketika memilih operator seluler?
Sama dengan teman
0
Perdananya murah
0
Jaringannya luas
0
Fiturnya banyak
0
Isi ulangnya murah
0
Pengisian pulsa mudah
0
Biaya penggunaan murah
0
Mobilitas mudah
0
Sign in to vote
Mempertanyakan Strategi Operator Seluler
Operator jaringan seluler merupakan perusahaan yang unik. Disebut unik karena perusahaan tersebut harus menambah jumlah konsumen dengan menjual nomor baru, namun juga sekaligus harus mempertahankan pelanggan lama dengan fasilitas yang menarik. Perpaduan keduanya, pelanggan baru dan pelanggan lama, akan menghasilkan keunggulan perusahaan.

Sering kita dengan teman kita berganti nomor selulernya, namun tidak berganti operator. Ketika digali lebih jauh, ternyata mereka tertarik dengan fasilitas atau bonus yang diberikan kepada nomor baru tersebut. Dalam data perusahaan, dapat dipastikan bahwa terlihat pengguna meningkat, padahal itu merupakan pertumbuhan semu dimana jumlah pelanggan adalah tetap, yang bertambah hanya nomor yang keluar saja.

Sering pula kita dengar adanya bonus yang terbatas hanya untuk pelanggan yang menggunakan nomornya selama 1 tahun. Namun bagi pelanggan lama, bonus tersebut dirasakan tidak semenarik bonus yang diperoleh pelanggan baru. Bahkan, seringkali isi ulang pulsa jauh lebih mahal dibandingkan dengan membeli nomor baru. Manakah yang lebih menguntungkan bagi Anda?

Baru-baru ini saya dikejutkan dengan adanya pembatasan pembelian pulsa. Dari reseller voucher disampaikan bahwa nomor luar daerah dibatasi pembeliannya dari daerah tertentu. Apakah ini memudahkan bagi pelanggan ataukah menyulitkan?

Bagi pengguna nomor daerah A yang memiliki kepentingan di daerah B dibatasi pembelian pulsa di daerah B tersebut. Jika pengguna tersebut sangat membutuhkan pulsa dalam nominal yang besar, maka tidak dapat mengisi pulsanya kecuali di reseller besar. Apakah pengguna tersebut akan mencari reseller besar ataukah mencari operator yang baru yang memiliki lebih banyak kemudahan?

Mari kita buka pikiran untuk berdiskusi tentang hal ini.

Apakah yang Anda lakukan bila operator seluler membatasi pembelian pulsa Anda di luar daerah?
Tidak tahu
0
Menerima apa adanya
0
Terpaksa menerima
0
Bersiap beralih ke operator lain
0
Segera beralih ke operator lain
0
Sign in to vote
Strategic Marketing or Suicide???
Akhir-akhir ini saya kesulitan mencari dan mengisi pulsa dengan nominal 25 ribu rupiah. Sempat berputar-putar di seluruh kota, namun hampir semua penjual mengatakan tidak ada. Yah, hampir tiga minggu kejadian ini mengganggu aktivitas saya sebagai supervisor yang membutuhkan nominal pulsa yang besar dan segera.

Tidak ada solusi yang ditawarkan oleh operator seluler untuk mengatasi hal tersebut. Dan sepertinya operator menikmati hal yang dipandang sebagai 'strategic marketing' mereka. Disebut demikian karena pada saat permintaan pasar yang banyak untuk nominal besar dipecah menjadi nominal yang kecil. Bukankah keuntungan untuk operator seluler akan meningkat karena pecahan 25 dengan keuntungan sekian persen dibagi menjadi 5 dengan keuntungan yang sama untuk masing-masing nominal. Berarti keuntungan operator seluler akan menjadi 5 kali lipat. Besar bukan?

Lalu, landasan strategis mereka apa? Berdasarkan model pemasaran yang mereka lakukan itu dapat dikatakan bahwa orientasi operator seluler adalah keuntungan yang besar. Lalu, keuntungan apa yang ditawarkan kepada pelanggan? Jelas dengan sistem seperti tersebut di atas pelanggan merasa dirugikan.

Perbincangan dengan beberapa retailer voucher memberikan gambaran bahwa kesulitan pulsa ini bahkan dipicu oleh kebijakan dari operator seluler. Beberapa retailer menyatakan bahwa pembelian voucher ini dibatasi dengan ketat. Pembelian nominal kecil minimal 10 buah, semakin tinggi nominal voucher semakin rendah batasannya. Bahkan beberapa retailer menyampaikan bahwa batas nominal tinggi bukan minimal namun maksimal. Misalnya untuk nominal 5000 disampaikan minimal 10 buah, namun untuk nominal 10000 dibatasi setengahnya yaitu 5 buah, dan untuk nominal 25000 hanya diijinkan 1 atau 2 buah saja. Serta untuk mendapatkan nominal 25000 harus mengambil nominal yang lebih kecil.

Pembatasan yang demikian membuat retailer merasa kesulitan untuk menjual vouchernya. Beberapa retailer bahkan mengatakan bahwa voucher dengan nominal 5000 sebenarnya telah menumpuk. Namun terpaksa terus mengambil nominal 5000 untuk mendapatkan nominal yang lebih besar.

Apakah ini Pemasaran Strategis atau Bunuh Diri? Pelanggan yang sangat membutuhkan nominal 25000 jelas akan mencari hingga ke seluruh penjuru kota untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Namun apakah ini akan bertahan terus? Pelanggan yang merasa tidak puas dengan layanan yang diberikan operator seluler akan segera mencari operator seluler yang lebih baik dalam melayani kebutuhan pelanggannya. Terlebih masa sekarang ini terdapat banyak pilihan operator seluler.

Jadi, konsumen bersiap-siap untuk beralih operator seluler. Sementara operator seluler bersiap-siap untuk mengalami kemunduran. Apakah ini kesalahan strategi atau memang direncanakan? Silakan berkomentar.

Sekilas CSR
Corporate Social Responsibility atau biasa disingkat dengan CSR seringkali dipandang sebagai salah satu beban bagi finansial sebuah perusahaan. Seringkali CSR itu tidak dianggap sebagai tanggungjawab perusahaan atas berbagai sumberdaya yang mendukung jalannya perusahaan. Pandangan ini menghambat berjalannya CSR dalam perusahaan.

CSR akan terintegrasi dengan baik bila visi dan misi perusahaan mengandung CSR itu sendiri. Visi dan misi perusahaan yang mendasari berjalannya perusahaan akan membangun sikap stakeholder dan pandangan stakeholder terhadap perusahaan. Sikap dan pandangan stakeholder inilah yang akan menentukan kelangsungan hidup perusahaan.

Perusahaan sendiri akan banyak memiliki keuntungan dengan adanya CSR dalam visi dan misinya. Salah satunya adalah perusahaan dapat membentuk budaya dalam perusahaan dengan lebih baik. Para karyawan akan menyamakan visi dan misi mereka dengan visi dan misi perusahaan dengan lebih mudah.

Siapkah kita menanamkan CSR dalam visi dan misi perusahaan?
Tags: csr, corporatesocialresponsibility
Friday May 11, 2007 - 11:06am (ICT) Permanent Link | 0 Comments

Add Bagoes's Consulting to your personalized My Yahoo! page:

Add to My Yahoo!RSS About My Yahoo! & RSS
1 - 5 of 7 First | < Prev | Next > | Last