Therefore if any man be in Christ, he is a new creature: old things are passed away...--> Click here Reply
My refelections when God told His words that change my life.
I have no power within me to live the Christian life. The Holy Spirit has to live in me and Christ has to live thru me. I cannot live the Christian life. I’m a total flawed and failed. - Billy Graham, sermon in San Jose 1981-
And I know that nothing good lives in me, that is, in my sinful nature. I want to do what is right, but I can’t. I want to do what is good, but I don’t. I don’t want to do what is wrong, but I do it anyway. - Paul on Romans 7:18 - 19.
Following Christ is a constant struggle. Struggle against our sinful nature and immoral infullence around us. How can we live as a true Christian nowadays?
Billy Graham admitted that he cannot win against those things unless the Holly Spirit live in him. As a respected preacher in USA over decades and having knowlegde of truths deeply did not make him able to win against sinful nature living in him. He needs the power of Holy Sipirt that will be given when accepted Jesus as Saviour.
In Romans 7:14-25, Apostle Paul has also shared his struggle with sin before he believed in Christ. He admited his sinful nature who control his life. He is unable to do what he thinks right. He said, “There is another power within me that is at war with my mind. This power make me a slave to the sin that still within me (verse 23).”
On verse 24, he get frustrated by saying “Oh, what a miserable person I am! Who will free me from this life that is dominated by sin and death?” I think this is what every believer would say if know how powerless we are as human against our sinful nature.
Who gonna help us then?
Verse 25, Thank God! the answer is in Jesus Christ our Lord. So you see how it is: In my mind I really want to obey God’s law, but because of my sinful nature I am a slave to sin.
We cannot win against our sinful nature without Christ. We need His Spirit to live in our life.
“But you are not controlled by your sinful nature. You are conntrolled by the Spirit if you have the Spirit of God living in you.” Romans 8:9
Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Kisah Para Rasul 1:6
Kalau kita membaca Kisah Para Rasul pasal pertama, di sana Lukas menuliskan percakapan terakhir Tuhan Yesus dengan para murid sebelum terangkat ke Sorga. Para murid bertanya kepada Tuhan, "maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Percakapan terakhir ini penting untuk direnungkan, karena terjadi sesaat sebelum Tuhan Yesus meninggalkan murid-muridnya di bumi.
Saya kira, pertanyaan para murid di atas mewakili pertanyaan kebanyakan manusia jika berada dalam kesulitan, terhimpit masalah dan ketidakpastian hidup: Kapan Tuhan memulihkan hidup kita dari masalah?
Setelah Yesus disalibkan, para murid berada dalam situasi krisis kepemimpinan, kehilangan sosok pemimpin yang bisa diharapkan membawa mereka lepas dari penjajahan Romawi. Mereka sedih dan stress menghadapi ketidakpastian (Lukas 24).
Jawaban Tuhan Yesus di ayat selanjutnya menarik untuk direnungkan. Ayat 7: Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Ayat 8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Kebenaran pertama yang bisa ambil dari ayat di atas adalah: Tuhan adalah pemilik waktu, Dia yang berdaulat menetapkan masa dan waktu menurut kuasaNya. Manusia boleh membuat rencana-rencana, tapi Tuhan yang mengetahui kapan dan waktu dalam kehidupan ini.
Kebenaran kedua adalah Yesus ingin hidup kita tidak terbelenggu oleh persoalan-persoalan yang kita hadapi. Dia ingin supaya kita hidup dalam persekutuan denganNya. Supaya Roh-Nya menguasai hidup kita. Roh-Nya yang akan memberikan kuasa untuk menjadikan kita kuat menghadapi segala pergumulan hidup.
Kata kuasa di ayat 8 berasal dari kata Yunani "dunamiv/dunamis" yang artinya power, mighty work, strength, miracle, mighty. Sehingga tidaklah mengherankan jika orang-orang yang penuh Roh, seperti Rasul Paulus menjadi kuat dalam menghadapi berbagai ancaman dan hambatan dalam tugasnya sebagai pemberita Injil, seperti yang diungkapkannya di 2 Korintus 11:3-38 menjadi Curriculum Vitae dia sebagai seorang Rasul Kristus.
Soli Deo Gloria.
2 Korintus 11: 23-28
23 Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. 24 Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, 25 tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. 26 Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. 27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, 28 dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.
Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! -Roma 3:27-
Roh Kudus adalah Pribadi yang dinamis. Dia akan memberikan kepada kita hikmat-hikmat yang tersembunyi, rahasia-rahasia kebenaran yang berasal dari Bapa, sehingga iman kita bertumbuh semakin maju. Seperti halnya hari ini, Roh Kudus memberikan suatu pernyataan mengenai perbedaan antara kemegahan hidup lama dan hidup baru. Kemegahan hidup lama adalah kemegahan di luar Kristus; kemegahan hidup baru adalah kemegahan di dalam Kristus.
Contoh nyata dari pribadi yang memahami perbedaan kemegahan tersebut adalah Rasul Paulus. Paulus (Saulus) adalah orang yang memiliki status istimewa di mata orang Yahudi. Dia orang Ibrani asli, keturunan langsung bangsa pilihan Allah yang melahirkan Kristus. Dia juga seorang Rabi, guru besar dalam lembaga pendidikan tinggi yang mempelajari Hukum Taurat. Tidak hanya pandai dalam mengajar, Paulus juga seorang Farisi, orang yang dengan teliti belajar dan sungguh-sungguh melakukan segala ketetapan Hukum Taurat. Farisi adalah kelompok masyarakat elite dalam strata masyarakat Yahudi. Jumlahnya tidak mungkin lebih dari 6000 orang. Pada jaman tersebut, orang Farisi memisahkan diri dengan kelompok masyarakat lainnya yang tidak melakukan Taurat. Bagi mereka sikap tersebut adalah suatu kebanggaan karena merupakan wujud kesetiaan terhadap Allah.
Yang membuat dia semakin istimewa yaitu status kewarganegaraannya sebagai warganegara Roma (Kisah 22:27). Pada saat itu kerajaan Romawi mendominasi dunia. Setiap warganegara Roma memiliki status istimewa di mata hukum. Dia tidak boleh dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Juga tidak boleh disesah alias dihukum cambuk (Kisah 22:25). Jika diadili dan dijatuhi hukuman, seorang warganegara Roma bisa naik banding langsung kepada Kaisar (Kisah 25:11).
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Fil 3:5-6), Paulus mengakui hal-hal di atas sebagai kebanggaannya sebelum mengenal Kristus. Dikatakan: "...disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat." Karena statusnya ini, tak heran jika Paulus mendapatkan mandat dari Sanhedrin (Mahkamah Tertinggi Yahudi) untuk membinasakan pengikut Kristus di Damsyik.
Namum di ayat-ayat selanjutnya Paulus mengatakan bahwa kebanggaannya karena hal-hal tersebut adalah kerugian karena pengenalan akan Kristus. Rugi karena Paulus menemukan sesuatu yang lebih bernilai, lebih mulia, yaitu Kristus. Paulus tidak mau kemegahan dirinya dibangun di atas dasar statusnya tersebut. Dia melepaskan semuanya dan menanggapnya sampah (sesuatu yang tidak berguna) supaya memperoleh pembaharuan hidup di dalam Kristus. Hal ini ditegaskannya kembali dalam suratnya kepada jemaat di Korintus: "Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti (2 Kor 3:10)."
Sebagai bukti bahwa dia telah mengenal Kristus adalah di ayat 20. Paulus menyatakan bahwa kewargaan dirinya sekarang adalah di dalam sorga. Dia tidak lagi bangga sebagai warganegara Roma yang memberikan perlindungan bagi nyawanya. Paulus menjadi sangat berani menghadapi segala resiko dalam memberitakan Injil (2 Kor 11:17-33; Roma 8:36). Makna keuntungan bagi dia bukan lagi pada hal-hal lahiriah, tapi jika serupa dengan Kristus dalam kematianNya. Bagi dia, hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan (Filipi 1:21).
Haleluya!
...dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Filipi 3:14