Ngut's Collection
Menurut beberapa orang yang tak mengenalku, katanya aku orang yang aneh. Entah apa pun alasan mereka, aku tidak akan terusik karena aku pun sering menganggap orang lain aneh, justeru setelah aku kenal baik dengan mereka. Sebut saja nama Fina Ulya, dia cewe tergila di kelas angkatanku. Aku menyebutnya gila, untuk tidak mengatainya pintar. Menurutku semua orang pintar dan sekaligus bodoh, tapi tidak semua orang gila. Aku menyebut gila untuk suatu kondisi ektrem dari perkembangan intelektual seseorang, trance dalam kepintarannya. Orang yang banyak mendedikasikan waktu hidupnya untuk hal jurnalistik, tentu ia akan memperoleh apa yang digelutinya dan di saat yang sama mustahil jika tiba-tiba ia mahir memperbaiki kereta api yang mogok di tengah jalan. Begitu pula denganku yang setiap hari hanya molor, mana mungkin kelak aku bisa menjadi juara lari 100 m tingkat dunia. Semua orang pasti pandai/pintar dalam bidang yang digelutinya.
Awal aku mengenal Fina, ia hanyalah cewe berkaca mata yang minderan, sama seperti lainnya. Tapi akhir-akhir ini, dalam 3 semester ini ia telah berubah menjadi monster feminis yang tak percaya adanya cinta. Tapi aku ragu kalau ia tidak pernah jatuh cinta. Ia hanya percaya bahwa wanita mampu melampaui pria, wanita adalah makhluk unik yang independen. Entahlah, barangkali ia juga yakin kalau wanita bisa melahirkan seorang bayi tanpa pria yang membuahinya. Tapi aku berapresiasi bahwa ia tak pernah mbolos kuliah, data-data yang ia punya tentang kuliah selalu akurat, ia menjadi sainganku ketika pamer IP (Indeks Prestasi). Kita lihat saja, siapa yang akan duluan menyelesaikan skripsi dan munaqosah.
Kami memang menjadi orang-orang gila dalam bidangnya masing-masing, tak terkecuali Nur Idham Laksono. Aku memanggilnya Idham, Dham…. Kini ia menampak gila setelah putus dengan kekasihnya tercinta. Barangkali ia memang frustasi sehingga doktrin “Kiri Islam”-nya semakin nampak. Ia bukan seorang demonstran tapi juga benci kapitalisme. Kebencian yang kadang ditular-tularkan dengan mengajak orang lain ikut membenci. Kini raut mukanya tampak lebih garang dari sebelumnya, menyimpan dendam yang tak terbalaskan.
Kadang aku terbengong, seharusnya Azmir yang nampak begitu karena ia seorang demonstran yang Marxisme-Leninisme. Seorang yang selalu tampil gondrong dan kumal, tapi malah ia nampak lebih santun dari gagasannya. Ia terlahir menjadi aktivis SMI (Serikat Mahasiswa Indonesia) dari pada aktivis tidur di kelas sepertiku. Oh, ia nampak bangga telah mengorbankan satu gigi atasnya saat berdemo dan bentrok dengan aparat di Malioboro beberapa bulan lalu, itu bukan pengalaman pertamanya. Ada-ada saja….
Sempat aku ikut masuk SMI tapi kemudian aku menjadi terganggu karena harus berkumpul dengan orang-orang aneh dalam sebuah organisasi aneh yang tak senalar dengaku. Aku jadi teringat dengan Ika Irmawansyah kalau bercerita tentang organisasi. Seorang kader PMII (Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia) yang antara pikiran dan perbuatannya tidak sejalan. Ia tampak bukan seorang militan kalau ngobrol-ngobrol masalah PMII denganku, tapi ia telah banyak berkorban untuk PMII. Entah apa yang ia cari lantas menjadi kurus karena organisasi, juga kurus dompetnya.
Untuk orang yang satu ini aku menyebutnya Golim, seorang humoris yang mudah bergaul dengan siapapun. Dan karena itu banyak wanita yang akhirnya menjadi korban bakat terpendamnya. Ada banyak hal yang menarik darinya, tapi aku cukup menyebutkannya satu yakni; ketika ia mendeskripsikan pengertian filsafat tempo hari. Filsafat yang berasal dari akar kata philo (pecinta) dan sophia (kebijaksanaan) tidak bisa lagi diartikan sebagai pecinta kebijaksanaan. Philo memang pencinta tapi Sophia adalah mana orang, wakil dari sekian banyak wanita cantik di dunia. Jadi, filsafat berarti pecinta wanita. Filsafat bisa juga menjadi phil syahwat, sebuah pil untuk menjustifikasi gerak-gerik syahwat.
Dengan demikian aku menjadi semakin yakin bahwa intelek tidak lain hanyalah budak nafsu. Intelek manusia berkembang di bawah kendali nafsunya, nafsu untuk berpikir. Barangkali agama juga demikian, beberapa oknum memperlakukan agama sebagai justifikasi untuk menaklukkan wanita, poligami yang konon sunnah, bahkan sampai menikahi anak-anak. Anehnya ada juga yang atas pertimbangan spiritualitas ia memilih hidup selibat, atau jangan-jangan ia memang impoten. Lagi-lagi nafsu, nafsu untuk memahami orang lain, nafsu untuk menaklukkan orang lain tunduk di bawah bendera subjektifitasku.
Semua yang kutulis ini –murni atau tidak, tetap– pendapatku. Sudah tentu berbeda dengan pendapat orang lain, juga dengan teman-temanku yang 90% santri. Seorang “santri kolot” ketika tiba-tiba berkenalan dengan paham-paham “liberal”, biasanya ia akan berubah menjadi monster gila dan membenci masa lalunya. Ia yang mulanya ekstrem kanan berpindah posisi menjadi ekstrem kiri, kalau aku ekstrem tengah saja…. Ini yang dinamakan “pembebasan atau penjerumusan” juga tak pasti.
Tapi kadang aku memandang positif orang-orang semacam M. Syamsul Huda yang setiap hari menelan api dan malamnya minum air. Barang langka, mahasiswa filsafat yang mondok di pesantren. Ia memang anak seorang kyai yang sudah diwarisi pondok pesantren. Dari sosoknya kegilaan tidak begitu tampak, bisa jadi karena posisinya berada di perbatasan antara “agama dan filsafat”. Bagiku ia nampak seperti keburukan yang baik. Tapi tetap, rekor ngantukanku ada di atasnya. []
Hari ini Rabu malam, tepatnya Kamis dini hari, 11 Desember 2008. Mataku masih awas untuk dikatakan mengantuk. Aku masih belum tahu kapan mulai mengantuk, bahkan sampai detik ini aku tak pernah tahu kapan persisnya aku mulai tertidur. Biasanya aku mulai bangun ketika bunyi gaduh anak-anak SMP atau SMK PIRI sudah mulai berdatangan, sekitar pukul 06.00 pagi.
Sejak aku pindah ke sini, sebulan lalu, jadwal rutinitasku sedikit berubah. Sebagai takmir masjid PIRI Darussalam aku punya kewajiban adzan, meski hanya tiga kali –Ashar, Maghrib dan Isya. Adzan Subuh lewat, tak mungkin ada jemaah karena gerbang masih rapat tertutup. Kalau Dzuhur, anak-anak SMA atau STM PIRI yang giliran adzan dan biasanya aku pun masih di kampus. Di PIRI ini kami bertiga yang menjadi takmir masjid, di kampus pun kami sekelas. Sehari-hari Asgor dan Muslim selain kuliah, mereka kerja di percetakan Darul Kutubil Islamiyah milik Yayasan PIRI. Sementara aku, hanya menjadi takmir yang baik. Jadwal rutinku, pun baik-baik saja.
Tapi entahlah dengan hari ini.
Paling-paling masih seperti biasa, bangun siang sementara Subuhnya di dalam mimpi. Konon, shalat khusu’ hanya ada sewaktu tidur sebab seseorang telah kehilangan kesadarannya, sadar akan shalatnya.
Semenjak aku kuliah di AF UIN Sunan Kalijaga, ini adalah tahun ketiga secara resmi aku meninggalkan ritual keagamaan –termasuk shalat. Aku terkena dampak perang idealitas sampai-sampai shalatku harus menjadi korban.
Kalau ingat shalat, aku selalu ingat ibuku di rumah, dialah yang selalu membangunkan Subuhku, setiap pagi.
“Maafkan shalatku Bu,
Aku melemparkannya ke meja perjudian, jauh entah di mana.”
Suatu hari ibu menelponku dan bertanya tentang shalatku. Tapi kujawab, “Sudah Bu.”
Ia akan kecewa kalau tahu yang sebenarnya.
Kini ia tak pernah menelponku lagi. Tak ada ibu di sini, tak ada lagi yang selalu membangunkan Subuhku kecuali kesadaran yang entah kapan datangnya. Kesadaran yang aku masih belum tahu.
Kini, ketika aku duduk di sini, aku telah menjadi mantan seorang nihilis ala Nietzschean. Tapi dampak-dampak nihilisme masih menampak dalam tingkahku. Aku masih menikmatinya meski –ketika seseorang menyadari bahwa dirinya seorang nihilis, ia– sudah bukan lagi seorang nihilis. Aku telah berubah menjadi si bingung yang tak tahu harus ke mana setelah ini. Bergerak berdasarkan naluri eks-nihilis yang menyuruhnya pergi, ke manapun. Tak ada ruang yang bebas dari resiko, semua beresiko, semua kacau.
“…Segalanya sama, segalanya sia-sia, dunia tak bermakna, pengetahuan mencekik,” demikianlah Sabda Zarathustra.
Aku mempercayai keraguan dan meragukan kepercayaan, sekaligus, tak ada yang tersisa. Sungguh tak ada yang tersisa, kecuali kerinduan.
Aku merindukan ibuku di sana, yang pagi ini sedang lelap tertidur menunggu Adzan Subuh. Ibu yang tak pernah melupakan weker dan ibu yang tak pernah melupakan shalat. Ibu yang setia menjadi pertanda kehidupan baru di rumahnya. Ibu yang, entahlah… semoga Tuhan melihat segala amal baiknya. Aku selalu berdo’a untuk ibu, “Semoga Tuhan betul-betul ada.”
Aku yakin Tuhan selalu ada bagi yang meyakininya, meski tidak bagiku karena Tuhan adalah ketiadaan yang tak pernah ada. Demikianlah keyakinan baruku. Dan kadang, aku pun tak memahami keyakinanku sendiri. Hanya, aku yakin (titik).
Seringkali dalam membicarakan Tuhan, aku menafsirkannya tidak sebagai yang transenden tapi sebaliknya: immanen, terlalu immanen. Itulah biang perdebatan panjangku, dengan kawan-kawan, dengan semuanya, termasuk dengan Tuhan lamaku.
Tuhan masa kecilku. Sewaktu ikatan sarung terus melilit, tak pernah kendor dari Ashar hingga Subuh. Tuhan yang membawakanku ketakdziman atas Tahlilan dan Yasinan di pojok pengap nan sempit, belakang ‘Warung Pak Apip’. Tapi rasanya dunia cepat sekali berubah, Pandansari –tanah airku– kini menjadi sangat asing di mataku. Kesakralan yang membuatku takdzim, kini tak ada lagi di sana bahkan sesekali aku melihat senyum-senyum hampa menyungging dari anak-anak tak berdosa. Seolah mereka bertanya-tanya, “Kenapa kami harus dilahirkan?” sayangnya mereka tak tahu harus mengadu kepada siapa. Tak ada service semacam ombudsman untuk mengadukan ke-salahasuh-an. Si ayah bila ditanya anaknya, pastinya akan bertanya pula, mempertanyakan hal serupa. Entah bagaimana dengan nasib anak-anak TPA yang dulu –dengan 10 ustadz/ustadzah lainnya– aku kelola. Dapatkah mereka melangkahi nasib ustadz/ustadzahnya? Jikalau aku tertuduh sesat, dapatkah mereka mampu maju selangkah lebih sesat dariku?
Kini semua sudah berubah dan harus berubah.
Tuhan telah menyelinap menjadi manusia, manusia memang Tuhan bagi dirinya sendiri. “Siapa yang menyadarinya?”
Suatu hari aku bergumam,
“Aku…!!!”
“Akulah yang menyadari ketuhananku.”
Sebelumnya aku pernah bertanya pada temanku, “Tuhan itu apa?”
“Tuhan adalah ini,” dan “Tuhan adalah itu.”
Selalu berbeda.
Masing-masing orang punya tafsir tersendiri mengenai Tuhannya. Semuanya benar, tak ada yang keliru dengan mereka. Tak ada yang boleh menyalahkan mereka, kecuali mereka sendiri.
Lambat laun baru aku mulai menyadari, memang tak ada yang betul-betul tahu tentang Tuhan. Tuhan hanya sebatas apa yang dipikirkan, selain itu tidak ada. Atau kalaupun ada yang mengaku betul-betul tahu tentang Tuhan, pasti bohong. Dia pembohong besar.
Di kantin, suatu siang, kata teman sekelasku lagi, “Ada atau tidaknya Tuhan tidak untuk diceritakan, tapi cukup dirasakan.”
Azmir berkomentar, “Manusia, dengan ilmu pengetahuannya memang arogan.”
Kami kemudian sepakat, “Manusia memang arogan…!!!”
“Tunggu,” Ibn Taimi menunjuk jidatnya pertanda kalau ia berpikir.
“Termasuk kita yang berkata demikian.”
“Betul…!!!” Dalam beberapa hal kami selalu manggut-manggut, tanda bersepakat.
“Semenjak zaman Yunani sampai sekarang –kita– di sini, orang mendiskusikan Tuhan tak pernah selesai.” Sholikhul Huda yang mirip Michael Faucault memang selalu meragukan sesuatu, kecuali cintanya yang buta.
Arafat sang fotografer angkat bicara rupanya, “Bagaimana kalau kita sudahi saja diskursus konyol kita ini. Sepakat?”
“Lantas tema diskusi kita apa?” Aku tak yakin.
“Diskusi tentang Tuhan kita sudahi dan perubahan sosial kita mulai…” Azmir yang marxis semangat memulai diskusi.
PIRI singkatan dari Perguruan Islam Republik Indonesia, sebuah yayasan pendidikan milik Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI). Menurut sejarahnya, GAI didirikan oleh R. Ng. Minhadjurrahman Djojosugito sekitar tahun 1928 lalu, jadi 2 tahun lebih muda dari NU. Awalnya Djojosugito ikut tergabung dalam kepengurusan pusat Muhammadiyah Yogyakarta namun karena pemikiran-pemikirannya dan juga melindungi Ahmadiyah yang saat itu diklaim sesat maka ia dikeluarkan dari Muhammadiyah. Sampai kemudian ia mendirikan Ahmadiyah (GAI) yang berpusat di rumah kediamannya –sekarang Jl. Kemuning No. 14 Baciro Yogyakarta 55225.
Secara teologis GAI adalah Ahmadiyah aliran Lahore yang ada di Indonesia sedangkan Ahmadiyah aliran Qadian di Indonesia menjadi JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia), berpusat di Parung, Bogor. Sedang cabang JAI di Yogyakarta ada di Kotabaru –utara stasiun Lempuyangan.
Aku memang bukan seorang ahmadi tapi kalau untuk sekedar tidur atau numapang idup, mereka terbuka. Boleh dikata; dari sekian banyak yang ngantor di PIRI hanya segelintir orang yang betul-betul ahmadi. Termasuk Pak Mul (Mulyono), otomatis karena ia seorang Sekjen PB GAI. Di mataku ia menjadi satu-satunya orang “biasa-biasa saja” yang pernah aku kenal. Menurutnya semua tidak ada yang istimewa, alias biasa-biasa saja. Sampai dia punya mobil, beberapa motor, 2 rumah di kalangan elit Minomartani serta sebuah pondok pesantren di Wonogiri pun biasa-biasa saja. Setiap hari ia ngantor di pojokan PIRI sebagai pimpinan percetakan “Darkuti” milik GAI, sebuah kantor yang biasa-biasa saja.
Aku dan teman-teman yang lain menjadi sering berdiskusi bahkan bergurau dengannya, gurauan yang biasa-biasa saja. Aku menghormatinya bukan dengan nunduk-nunduk atau mencium tangannya tapi cukup dengan tersenyum ramah dan mengikuti jamaah Rahmaniahan setiap malam Jum’at. Rahmaniahan tidak lebih dari sekedar rubung-rubung ba’da Maghrib sembari membaca QS. Al-Rahman plus dzikir rahmaniahan, sampai ‘Isya. Bisa jadi Rahmaniahan adalah bentuk lain dari Yasinan dan Tahlilan di kampung-kampung NU. Atau memang secara teologis Rahmaniahan memiliki penekanan berbeda dari aktifitas dzikir lainnya.
Menurutku –secara material– Pak Mul termasuk orang kaya namun ia lebih memilih setiap Sabtu sore pulang ke Wonogiri ngopeni pondok pesantren dari pada berhaji ke Baitullah, yang menurutnya hanya ajang kesombongan status sosial belaka. Kebanyakan orang lebih memandang Tuhan yang transenden dari pada Tuhan yang menjelma manusia atau yang bersemayam dalam diri anak-anak yang butuh sarana beraktualisasi. Pendapat demikian jelas tidak ada di pedoman GAI, Mirza Ghulam Ahmad sendiri tidak pernah bertutur demikian, atau barangkali ia memiliki tafsir lain mengenai Ahmadiyah. Entahlah, ia memang orang yang biasa-biasa saja. Barangkali itulah kebersahajaan, hanya kebersahajaan yang biasa-biasa saja.
Satu hal yang aku sayangkan, seseorang yang biasa-biasa saja telah menyebabkan nalar eks-nihilisku menjadi babi buta. Ia menelantarkanku pada derajat kepasrahan yang…, aku ingin memberontaknya, tapi aku belum bisa. Aku belum menemukan mortir terdahsyat untuk meluluh-lantakkan makhluk nihilisme dalam diriku. Atau aku harus ikut biasa-biasa saja?
Di akhir tahun 2008 ini barangkali aku harus betul-betul meninggalkan masa lalu. Terutama masa-masa di Empujaya, sebuah lingkungan yang mengenalkanku pada citarasa asli Indonesia, sebuah miniatur kepongahan Bangsa Indonesia. Sesuatu yang –meski ada, tapi– tidak dengan mudah aku dapatkan di Pandansari. Pandansari sudah terlanjur mengenalku sebagai sosok yang tak boleh mengenal kepongahan, tapi itulah kepongahan dalam sosoknya yang lain. Pandansari jelas tidak akan mengizinkanku; siangnya berkhutbah di masjid dan malamnya turut ramai-ramai nyate Asu seperti yang aku praktekkan di Prambanan, waktu KKN kemarin.
Mereka tidak akan percaya kalau ‘setidaknya orang yang mengatakan bahwa danging Asu haram, ia telah mencobanya’. Ia ngomong lantaran tahu bukan spekulasi atau ikut-ikutan. Barangkali nalar taklid itulah yang telah memposisikan seorang kyai pada posisi yang setinggi-tingginya, lebih dari segalanya. Seorang kyai harus “suci”, seorang kyai harus dicium tangannya, seorang kyai tidak boleh pongah dan seterusnya. Jangankan kyai, nabi saja manusia biasa. Dan menurut Pak Mul, nabi pun biasa-biasa saja tapi para pengagumnyalah yang terlalu berlebihan menganggapnya.
Ok, tiga tahun aku di Empujaya selama itu pula aku belajar banyak hal, termasuk mengagas teori kemunafikan. Aku belajar menjadi Tuhan. Aku berdo’a supaya menjadi Tuhan.
Aku pun belajar bersama sampah, menjadi sampah meski tak benar-benar sampah. Sampah masyarakat, masyarakat sampah. Entah siapa yang memulai tapi aku selalu pesimis dengan Indonesia. Aku tak yakin ada orang waras di Indonesia, termasuk aku yang menulis dan kau yang membacanya. Di Empujaya aku telah menangisi Indonesia, di tempat itulah aku pun menertawakan Indonesia, pada kesempatan lain setelah aku menangisinya.
Kemarin pakdhe Sarno berkata padaku, “Man aku ra puasa je mergane nek puasa aku ra iso kerja nang sawah (Man, aku tidak berpuasa sebab kalau berpuasa aku tidak bisa kerja di sawah).” Begitulah orang tua warga Mabang yang pertama kali kukenal ini. Aku sangat tertarik dengan cara berpikir yang begitu. Memang, berpuasa bukan berarti seseorang boleh ngantuk seharian karena loyo namun pekerjaan harus tetap diteruskan. Hanya sayangnya, pakdhe Sarno memilih meninggalkan puasanya. Bagiku, pilihan begitu masih lebih baik dari pada memilih tetap berpuasa dan tetap tertidur. Inilah yang kumaksud dengan kearifan lokal, ibadah ya ibadah tapi kerja ya harus tetap kerja. Bukan berarti sebaliknya, puasa menjadi alasan sah untuk boleh bermalasan atau tertidur seharian.
Lain halnya dengan Ibu Mur, ia dengan segala kemampuannya selalu memproteksi keluarganya (anak-anaknya) untuk tidak boleh keluar rumah, kecuali untuk keperluan tertentu. Sebab menurutnya, bila anak-anak tersayangnya sampai bergaul dengan orang-orang selingkungannya bisa jadi mereka ikut “tak bersopan-santun.” Bagi Ibu Mur, orang-orang terutama generasi muda Mabang memang tidak bersopan-santun dan ia tidak menginginkan hal seperti itu terjadi pada anak-anaknya. Begitulah ibu kostku di Mabang sana. Tapi sayangnya, metode over protect itu ia terapkan juga pada kami, mahasiswa-mahasiswa KKN. Hal tersebut sama artinya dengan melarang kami untuk bermasyarakat. Jika demikian, untuk apa harus ada KKN.
Pernah suatu hari, sewaktu anak-anak (TPA) warga Mabang bermain ke rumahnya (posko KKN), berhubung bermainnya sampai ke tempat tidur kami lalu anak-anak itu diusirnya, dengan tidak sopan dihadapan kami. Barangkali ia menyalahkan ku sebagai ketua rombongan KKN, walau aku tahu tapi bagiku diam itu lebih baik. Memang sebelumnya ia berpesan padaku supaya berhati-hati sebab anak-anak itu tidak beres. Ia tidak ingin kalau ada sesuatu yang nantinya hilang karena diam-diam dibawa oleh seorang dari mereka. Wah, bagiku itu merupakan proteksi yang terlalu ketat, tujuannya mulia namun caranya menjadi tidak lagi mulia.
Di belakang rumah Ibu Mur, tepatnya tetangga yang rumahnya di bawah, ada seorang tua (kurang lebinya 70-an tahun usianya) bernama Trisno Sentono. Orang-orang memanggilnya Mbah Tris. Mbah Tris adalah bapak mudin-nya warga Mabang. Barangkali kalau di desaku mudin adalah kayim (pemimpin agama atau setara dengan ketua adat). Mbah Tris seorang yang terlalu sederhana menurutku, tapi dedikasinya kepada masyarakat tidak diragukan. Ia juga mantan ketua RT, setelah menjabat selama 20 tahun dan baru 2 bulan kemarin mengundurkan diri karena merasa sudah payah. Dan katanya, ia pun pernah juga merangkap sebagai HANSIP (Pertahanan Sipil). Sewaktu masih menjabat sebagai ketua RT dan ada tugas ke kecamatan, ia pasti berangkat dengan hanya berjalan kaki. Aku yang bawa sepeda motor saja malas kalau harus ke kecamatan karena jauh sekitar 7-an km dan jalannya naik-turun, mending kalau sekarang sudah aspal tapi kalau dulu jalan batu. Ya aku tahu kalau Mbah Tris memang orang gunung sejati.
Aku juga sebetulnya merasa kasihan, di usianya yang senja ia masih harus ke sana-ke mari tanpa alas kaki memenuhi undangan sebagai bapak mudin. Memang karena kondisi yang memaksanya harus demikian, “Piye maneh wong ra ono sing ngganti… (Bagaimana lagi memang tidak ada yang menggantikan….)” Semoga dedikasinya tidak sia-sia….
Aku tak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Tapi yang jelas, suka dan dukanya tak mungkin untuk diceritakan semua. Bagi orang timur, ada hal tabu yang sengaja harus ditutup-tutupi, tentu tidak semua hal itu tabu.
Begini saja, awal mula aku sekelompok tiba di lokasi KKN, bagai orang hilang yang tak jelas identitasnya. Kami dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sangat asing. Betul-betul asing. Kalau sesekali temanku pergi karena suatu acara di kampus dan sekaligus mampir kost, pasti yang ditanya “kapan kau naik?” Itulah isilah yang cocok untuk lokasi KKN-ku. Suatu daerah dataran tinggi, gersang, tanah batu putih, sulit air, panas dan jauh dari kota. Sinyal untuk Indosat pun hanya ada di tempat-tempat tertentu. Untungnya di tempatku menginap sinyal Indosat penuh meski harus keluar rumah.
Kami sekelompok ada 8 orang. Sebut saja, cewe’ depan paling kiri namanya: Nurhayati –Mahasiswi Pengembangan Masyarakat Islam Fak. Dakwah), Selanjutnya Novita Sari Aryati –Mahasiswi al-Akhwal asy-Syahsiyyah Fak. Syari’ah), kemudian Husni –Mahasiswa smt IX Keuangan Islam Fak. Syari’ah). Kami semua masiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sementara di barisan belakang, paling kiri bernama: Wawan Kurniwan –Mahasiswa smt VI Mu’amalah Fak. Syari’ah), kemudian yang satu inilah Mr. Sap’enZ atau Ngutsman Mukromin –Mahasiswa smt VI Aqidah dan Filsafat Fak. Ushuluddin) dialah sang ketua rombongan, berikutnya Mawardi –Mahasiswa Perbandingan Madzhab dan Hukum Fak. Syari’ah) orang yang kerjanya hanya tidur dan telpon. Dan terakhir Muhammad Sobirin –Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fak. Adab). Sebetulnya masih ada satu lagi yaitu Endri Kurnianto, dialah sang juru fotonya.
Maaf saja kalau rambutnya acak-acakan, memang sudah 3 hari belum dikeramas. Di sana kalau mandi jatahnya hanya 3 ember bahkan katanya, orang-orang sana kalau mandi cukup 1 ember air. Betul-betul luar biasa.... Dan terakhir aku coba mandi hanya dengan air 1 ember, wah... ternyata rambutku tak basah. Di sana memang air harus beli, 1 mobil tangki (sekitar 5000 liters) ongkosnya Rp 100 – 130 ribu.
Kami di lokasi sekitar 2 bulan (7 Juli s/d 31 Agustus 2008). Kurun waktu yang kalau diingat-ingat susahnya menjadi sangat lama, walau akhirnya 2 bulan kelar juga.
Kegiatanku di sana selain makan dan tidur, ikut gotong-royong, kerja bhakti bersih-bersih kampung, menyelengarakan pengajian isro’ mi’raj, tahlilan terus kirim do’a untuk para leluhur di makam. Sesekali ikut rombongan kesenian Jatilan (Kuda Lumping) dan Uyon-uyon bersama kelompok Turonggo Muda manunggal. Pokoknya seru... di sana aku belajar memainkan alat-alat musik, ada Kendang, Kenong, Bonang, Gong, Gender, Slenthem, Saron dan macam-macam. Sesuatu yang menurutku, betul-betul baru.
Di tengah sendau gurau bersama warga, asap selalu mengepul ke udara. Kita merokok bersama, rokok lintingan dari tembakau lokal. Aroma khas Klembak Menyan. Kebetulan, sebagian mereka adalah petani tembakau. Tentu yang berani menghisap rokok lintingan tembakau lokal hanya para sesepuh (orang-orang tua) dan ketika itu aku pun menjadi bagian dari mereka. Hanya sayangnya, aku selalu batuk-batuk kalau memakai klembak menyan. Aku lebih memilih rokok tembakau (jawa: mbako) lokal tanpa bumbu, itu pun sudah hebat. Karena di antara kami sekelompok dan di antara pemuda-pemuda sana, hanya aku yang selalu menenteng mbako lintingan ke mana-mana. Karena itu, aku dikenal dengan lintingannya. Maka semua orang menawariku lintingan. Sampai aku diberi oleh-oleh sebungkus tembakau lokal plus dengan benihnya (biji) supaya ditanam.
Warga sana memang sudah terbiasa menerima mahasiswa yang ber-KKN sehingga sambutan mereka pada kami pun hangat, sehangat mereka memperlakukan keluarga sendiri.
Hanya sayangnya (kini cerita idealisme seorang mahasiswa UIN ya....), keber-agama-an (Islam) masyarakat sana masih (katakanlah) tradisional. Meski Islam yang berkembang di sana Muhammadiyah yang konon lebih modern, namun Muhammadiyah sana adalah Muhammadiyah primitif. Kembang setaman dan Menyan atau sesaji masih menjadi bagian dari adat mereka. Mereka tahu tapi tak bisa meninggalkan itu. Mereka sangat menghormati Mbah Nawung (sesepuh mereka). Konon Mbah Nawung adalah seseorang yang membabad hutan menjadi pemukiman bernama Nawung, termasuk Lemahbang (Mabang) dan sekitarnya. Setiap ada acara do’a bersama, tahlilan, kenduren, tirakatan dan sebagainya nama Mbah Nawung selalu disebut. Bahkan di atas pemakamannya, didirikan sebuah gubuk lengkap dengan persajiannya. Pohon Jati yang tumbuh di atas makamnya pun dilingkari (jawa: dibebedi) kain Mori yang sudah berlapis-lapis, entah sudah berapa generasi menuruninya. Setiap sore akhir bulan Sya’ban (menjelang Bulan Ramadhan), pemakaman selalu ramai dikunjungi orang yang mendo’akan sanak-saudaranya yang sudah meninggal, tentu yang dikubur di sana bersama Mbah Nawung.
Maka tidak aneh jika masjid selalu sepi. Kalau tidak kami yang bergiliran adzan dan mengimami, entah siapa yang shalat di sana. Shalat Jum’at pun hanya sekitar 15 orang plus dengan kami 6 orang. Padahal jumlah warga Dusun Lemahbang (Mabang) sekitar 870-an jiwa. Bagi logika Mabang hal ini jelas masuk akal karena memang hanya segelintir orang yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Entahlah dengan mereka, meski sebetulnya mampu, para orang tua enggan untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai SMA apalagi perguruan tinggi. Konon warga Mabang banyak yang ke luar negeri namun bukan sekolah melainkan ikut andil di gerbong TKI/TKW.
Entah sampai kapan kepongahan-kepongahan seperti ini akan terobati. Kalau di sana aku menjadi tak yakin dengan diriku sendiri. Aku menjadi ragu kalau kemarin aku sudah memperingati HUT KEMERDEKAAN RI yang ke-63, meski di sana sebetulnya sangat meriah, antusias, kerja sama dan sebagainya.
Merdeka....!!!
Kemarin bersama seluruh warga Mabang sempat merayakan HUT Kemerdekaan RI ke 63 dengan berbagai kegiatan, diantaranya; bersih-bersih kampung, lomba-lomba sampai tirakatan.
Mabang (nama resminya Lemahbang) merupakan sebuah dukuh/dusun yang ikut dalam wilayah Desa Gayamharjo, Kec. Prambanan, kab. Sleman, D.I. Yogyakarta. Daerah ini terdampar di atas perbukitan bersebelahan dengan Wonosari (Kab. Gunung Kidul) dan sebelah utaranya Kab. Klaten (Jawa Tengah). Uniknya, setiap warga Mabang pasti memelihara ternak. Ternak terfaforit mereka sapi dan kambing. Bahkan ada juga yang peliharaannya komplit, ada sapi, kambing, anjing, kucing, ayam, itik berikut kutu-kutunya. Pokoknya komplit, pliiiitttt....... Sebagian mereka memiliki sawah namun sawahnya tadah hujan. Jadi kalau musim kemarau seperti saat ini, tak mungkin ada tanaman padi mampu bertengger di sawah. Sudah jauh-jauh hari mereka menggatinya dengan tanaman tembakau atau singkong, tanaman yang tak butuh banyak air. Jangankan mau nyiram tanaman, nyiram badan saja susah.....
Bersambung.........