Yahoo! 360° News | Beta Feedback
Start your own Yahoo! 360° page

Mr. Sap'enZ

Top Page  |  Blog  |  Friends  |  Groups

  • School: The State Islamic University Of SuKa

Add

Mr. Sap'enZ is not connected to you in Yahoo! 360°.

Last updated Tue Sep 02, 2008 Member since December 2007

اليوم يوم السرور--> Click here Reply

1 - 5 of 12 First | < Prev | Next > | Last

Mr. Sap'enZ Full Post View | List View

Relung Subjektivitas

Kisah dari Mabang - 2
Kisah dari Mabang - 2 magnify

Kemarin pakdhe Sarno berkata padaku, “Man aku ra puasa je mergane nek puasa aku ra iso kerja nang sawah (Man, aku tidak berpuasa sebab kalau berpuasa aku tidak bisa kerja di sawah).” Begitulah orang tua warga Mabang yang pertama kali kukenal ini. Aku sangat tertarik dengan cara berpikir yang begitu. Memang, berpuasa bukan berarti seseorang boleh ngantuk seharian karena loyo namun pekerjaan harus tetap diteruskan. Hanya sayangnya, pakdhe Sarno memilih meninggalkan puasanya. Bagiku, pilihan begitu masih lebih baik dari pada memilih tetap berpuasa dan tetap tertidur. Inilah yang kumaksud dengan kearifan lokal, ibadah ya ibadah tapi kerja ya harus tetap kerja. Bukan berarti sebaliknya, puasa menjadi alasan sah untuk boleh bermalasan atau tertidur seharian.

Lain halnya dengan Ibu Mur, ia dengan segala kemampuannya selalu memproteksi keluarganya (anak-anaknya) untuk tidak boleh keluar rumah, kecuali untuk keperluan tertentu. Sebab menurutnya, bila anak-anak tersayangnya sampai bergaul dengan orang-orang selingkungannya bisa jadi mereka ikut “tak bersopan-santun.” Bagi Ibu Mur, orang-orang terutama generasi muda Mabang memang tidak bersopan-santun dan ia tidak menginginkan hal seperti itu terjadi pada anak-anaknya. Begitulah ibu kostku di Mabang sana. Tapi sayangnya, metode over protect itu ia terapkan juga pada kami, mahasiswa-mahasiswa KKN. Hal tersebut sama artinya dengan melarang kami untuk bermasyarakat. Jika demikian, untuk apa harus ada KKN.

Pernah suatu hari, sewaktu anak-anak (TPA) warga Mabang bermain ke rumahnya (posko KKN), berhubung bermainnya sampai ke tempat tidur kami lalu anak-anak itu diusirnya, dengan tidak sopan dihadapan kami. Barangkali ia menyalahkan ku sebagai ketua rombongan KKN, walau aku tahu tapi bagiku diam itu lebih baik. Memang sebelumnya ia berpesan padaku supaya berhati-hati sebab anak-anak itu tidak beres. Ia tidak ingin kalau ada sesuatu yang nantinya hilang karena diam-diam dibawa oleh seorang dari mereka. Wah, bagiku itu merupakan proteksi yang terlalu ketat, tujuannya mulia namun caranya menjadi tidak lagi mulia.

Di belakang rumah Ibu Mur, tepatnya tetangga yang rumahnya di bawah, ada seorang tua (kurang lebinya 70-an tahun usianya) bernama Trisno Sentono. Orang-orang memanggilnya Mbah Tris. Mbah Tris adalah bapak mudin-nya warga Mabang. Barangkali kalau di desaku mudin adalah kayim (pemimpin agama atau setara dengan ketua adat). Mbah Tris seorang yang terlalu sederhana menurutku, tapi dedikasinya kepada masyarakat tidak diragukan. Ia juga mantan ketua RT, setelah menjabat selama 20 tahun dan baru 2 bulan kemarin mengundurkan diri karena merasa sudah payah. Dan katanya, ia pun pernah juga merangkap sebagai HANSIP (Pertahanan Sipil). Sewaktu masih menjabat sebagai ketua RT dan ada tugas ke kecamatan, ia pasti berangkat dengan hanya berjalan kaki. Aku yang bawa sepeda motor saja malas kalau harus ke kecamatan karena jauh sekitar 7-an km dan jalannya naik-turun, mending kalau sekarang sudah aspal tapi kalau dulu jalan batu. Ya aku tahu kalau Mbah Tris memang orang gunung sejati.

Aku juga sebetulnya merasa kasihan, di usianya yang senja ia masih harus ke sana-ke mari tanpa alas kaki memenuhi undangan sebagai bapak mudin. Memang karena kondisi yang memaksanya harus demikian, “Piye maneh wong ra ono sing ngganti… (Bagaimana lagi memang tidak ada yang menggantikan….)” Semoga dedikasinya tidak sia-sia….

Tags: zero
Monday September 15, 2008 - 08:45am (ICT) Permanent Link | 5 Comments
Kisah dari Ma-Bang
Kisah dari Ma-Bang magnify

Aku tak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Tapi yang jelas, suka dan dukanya tak mungkin untuk diceritakan semua. Bagi orang timur, ada hal tabu yang sengaja harus ditutup-tutupi, tentu tidak semua hal itu tabu.

Begini saja, awal mula aku sekelompok tiba di lokasi KKN, bagai orang hilang yang tak jelas identitasnya. Kami dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sangat asing. Betul-betul asing. Kalau sesekali temanku pergi karena suatu acara di kampus dan sekaligus mampir kost, pasti yang ditanya “kapan kau naik?” Itulah isilah yang cocok untuk lokasi KKN-ku. Suatu daerah dataran tinggi, gersang, tanah batu putih, sulit air, panas dan jauh dari kota. Sinyal untuk Indosat pun hanya ada di tempat-tempat tertentu. Untungnya di tempatku menginap sinyal Indosat penuh meski harus keluar rumah.

Kami sekelompok ada 8 orang. Sebut saja, cewe’ depan paling kiri namanya: Nurhayati –Mahasiswi Pengembangan Masyarakat Islam Fak. Dakwah), Selanjutnya Novita Sari Aryati –Mahasiswi al-Akhwal asy-Syahsiyyah Fak. Syari’ah), kemudian Husni –Mahasiswa smt IX Keuangan Islam Fak. Syari’ah). Kami semua masiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sementara di barisan belakang, paling kiri bernama: Wawan Kurniwan –Mahasiswa smt VI Mu’amalah Fak. Syari’ah), kemudian yang satu inilah Mr. Sap’enZ atau Ngutsman Mukromin –Mahasiswa smt VI Aqidah dan Filsafat Fak. Ushuluddin) dialah sang ketua rombongan, berikutnya Mawardi –Mahasiswa Perbandingan Madzhab dan Hukum Fak. Syari’ah) orang yang kerjanya hanya tidur dan telpon. Dan terakhir Muhammad Sobirin –Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fak. Adab). Sebetulnya masih ada satu lagi yaitu Endri Kurnianto, dialah sang juru fotonya.

Maaf saja kalau rambutnya acak-acakan, memang sudah 3 hari belum dikeramas. Di sana kalau mandi jatahnya hanya 3 ember bahkan katanya, orang-orang sana kalau mandi cukup 1 ember air. Betul-betul luar biasa.... Dan terakhir aku coba mandi hanya dengan air 1 ember, wah... ternyata rambutku tak basah. Di sana memang air harus beli, 1 mobil tangki (sekitar 5000 liters) ongkosnya Rp 100 – 130 ribu.

Kami di lokasi sekitar 2 bulan (7 Juli s/d 31 Agustus 2008). Kurun waktu yang kalau diingat-ingat susahnya menjadi sangat lama, walau akhirnya 2 bulan kelar juga.

Kegiatanku di sana selain makan dan tidur, ikut gotong-royong, kerja bhakti bersih-bersih kampung, menyelengarakan pengajian isro’ mi’raj, tahlilan terus kirim do’a untuk para leluhur di makam. Sesekali ikut rombongan kesenian Jatilan (Kuda Lumping) dan Uyon-uyon bersama kelompok Turonggo Muda manunggal. Pokoknya seru... di sana aku belajar memainkan alat-alat musik, ada Kendang, Kenong, Bonang, Gong, Gender, Slenthem, Saron dan macam-macam. Sesuatu yang menurutku, betul-betul baru.

Di tengah sendau gurau bersama warga, asap selalu mengepul ke udara. Kita merokok bersama, rokok lintingan dari tembakau lokal. Aroma khas Klembak Menyan. Kebetulan, sebagian mereka adalah petani tembakau. Tentu yang berani menghisap rokok lintingan tembakau lokal hanya para sesepuh (orang-orang tua) dan ketika itu aku pun menjadi bagian dari mereka. Hanya sayangnya, aku selalu batuk-batuk kalau memakai klembak menyan. Aku lebih memilih rokok tembakau (jawa: mbako) lokal tanpa bumbu, itu pun sudah hebat. Karena di antara kami sekelompok dan di antara pemuda-pemuda sana, hanya aku yang selalu menenteng mbako lintingan ke mana-mana. Karena itu, aku dikenal dengan lintingannya. Maka semua orang menawariku lintingan. Sampai aku diberi oleh-oleh sebungkus tembakau lokal plus dengan benihnya (biji) supaya ditanam.

Warga sana memang sudah terbiasa menerima mahasiswa yang ber-KKN sehingga sambutan mereka pada kami pun hangat, sehangat mereka memperlakukan keluarga sendiri.

Hanya sayangnya (kini cerita idealisme seorang mahasiswa UIN ya....), keber-agama-an (Islam) masyarakat sana masih (katakanlah) tradisional. Meski Islam yang berkembang di sana Muhammadiyah yang konon lebih modern, namun Muhammadiyah sana adalah Muhammadiyah primitif. Kembang setaman dan Menyan atau sesaji masih menjadi bagian dari adat mereka. Mereka tahu tapi tak bisa meninggalkan itu. Mereka sangat menghormati Mbah Nawung (sesepuh mereka). Konon Mbah Nawung adalah seseorang yang membabad hutan menjadi pemukiman bernama Nawung, termasuk Lemahbang (Mabang) dan sekitarnya. Setiap ada acara do’a bersama, tahlilan, kenduren, tirakatan dan sebagainya nama Mbah Nawung selalu disebut. Bahkan di atas pemakamannya, didirikan sebuah gubuk lengkap dengan persajiannya. Pohon Jati yang tumbuh di atas makamnya pun dilingkari (jawa: dibebedi) kain Mori yang sudah berlapis-lapis, entah sudah berapa generasi menuruninya. Setiap sore akhir bulan Sya’ban (menjelang Bulan Ramadhan), pemakaman selalu ramai dikunjungi orang yang mendo’akan sanak-saudaranya yang sudah meninggal, tentu yang dikubur di sana bersama Mbah Nawung.

Maka tidak aneh jika masjid selalu sepi. Kalau tidak kami yang bergiliran adzan dan mengimami, entah siapa yang shalat di sana. Shalat Jum’at pun hanya sekitar 15 orang plus dengan kami 6 orang. Padahal jumlah warga Dusun Lemahbang (Mabang) sekitar 870-an jiwa. Bagi logika Mabang hal ini jelas masuk akal karena memang hanya segelintir orang yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Entahlah dengan mereka, meski sebetulnya mampu, para orang tua enggan untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai SMA apalagi perguruan tinggi. Konon warga Mabang banyak yang ke luar negeri namun bukan sekolah melainkan ikut andil di gerbong TKI/TKW.

Entah sampai kapan kepongahan-kepongahan seperti ini akan terobati. Kalau di sana aku menjadi tak yakin dengan diriku sendiri. Aku menjadi ragu kalau kemarin aku sudah memperingati HUT KEMERDEKAAN RI yang ke-63, meski di sana sebetulnya sangat meriah, antusias, kerja sama dan sebagainya.

Merdeka....!!!

Kemarin bersama seluruh warga Mabang sempat merayakan HUT Kemerdekaan RI ke 63 dengan berbagai kegiatan, diantaranya; bersih-bersih kampung, lomba-lomba sampai tirakatan.

Mabang (nama resminya Lemahbang) merupakan sebuah dukuh/dusun yang ikut dalam wilayah Desa Gayamharjo, Kec. Prambanan, kab. Sleman, D.I. Yogyakarta. Daerah ini terdampar di atas perbukitan bersebelahan dengan Wonosari (Kab. Gunung Kidul) dan sebelah utaranya Kab. Klaten (Jawa Tengah). Uniknya, setiap warga Mabang pasti memelihara ternak. Ternak terfaforit mereka sapi dan kambing. Bahkan ada juga yang peliharaannya komplit, ada sapi, kambing, anjing, kucing, ayam, itik berikut kutu-kutunya. Pokoknya komplit, pliiiitttt....... Sebagian mereka memiliki sawah namun sawahnya tadah hujan. Jadi kalau musim kemarau seperti saat ini, tak mungkin ada tanaman padi mampu bertengger di sawah. Sudah jauh-jauh hari mereka menggatinya dengan tanaman tembakau atau singkong, tanaman yang tak butuh banyak air. Jangankan mau nyiram tanaman, nyiram badan saja susah.....

Bersambung.........

Tags: zero
Tuesday September 2, 2008 - 09:56am (ICT) Permanent Link | 4 Comments
Emansipasi Wanita: Emansipasi Jati Diri
Emansipasi Wanita: Emansipasi Jati Diri magnify

Suatu sore aku sempat tercengang ketika menonton salah satu acara komedi di TV “Suami-suami Takut Isteri.” Aku bertanya-tanya “Apakah wajah emansipasi wanita memang begitu?” Wanita harus bisa ditakuti suami dan suami harus nurut sepenuhnya kepada isteri. Atau barangkali tidak perlu seekstrem itu seharusnya, yang terekam dalam komedi itu hanyalah satu dari sekian wajah keculasan kaum pria.

Sama halnya dengan keluarga tetanggaku di kampung; karena terlilit beban ekonomi isteri harus pergi ke luar negeri mencari sesuap nasi. Dan anak si buah hati harus dititipkan pada orang tuanya sementara si suami (katakanlah) hanya ongkang-ongkang di rumah menunggu kiriman datang dari luar negeri. Di tempat lain, banyak juga wanita yang harus keluar rumah di malam hari: melacur supaya keluarga makmur.

Dari beberapa kasus yang terjadi aku jadi tak mengerti apa sebetulnya yang dimaksud dengan emansipasi wanita. Haruskah karena emansipasi wanita, wanita harus bergantian peran dengan pria. Sesekali pria hamil dan mengurus anak lalu wanita pergi bekerja atau wanita yang tetap harus hamil tapi juga bekerja. Atau barangkali jika wanita memang lebih mampu memimpin pria, menurutku tak jadi soal. Karena mamang banyak juga laki-laki yang tak mampu menjadi laki-laki. Tapi sayangnya jika pria dan wanita dalam satu konteks yang sama harus saling berebut kursi kekuasaan, pasti akan heboh ceritanya. Tipu muslihat biasanya menjadi senjata jitu mengalahkan lawan. Dan siapa yang tertipu, akan menuai dendam. Sungguh menjemukan!

Tentu, jika emansipasi wanita yang kita lihat dari kasus per kasus tak akan ada habisnya. Karena setiap kasus selalu multifaktor dan bahkan interpretable. Jika sudah demikian, diskusi kita pasti ngalor-ngidul tak karuan. Atau barangkali, agar kaya perspektif diskusi memang harus dibuat demikian. Membaca konsep dengan logika induksi, tidak semata-mata deduksi.

Ada cerita, tolong pikirkan baik-baik! Suatu hari temanku bertanya pada dosennya di kelas, ”Pak, dahulu mana antara telur dan ayam diciptakan?”

Sejenak dosen pun mengernyitkan dahi, “Wah kalau itu aku juga tak tahu. Tapi aku juga punya satu pertanyaan juga untukmu: lebih dahulu siapa antara pria dan wanita kelak ketika masuk surga?” Pak dosen berkelit. Sepontan kelas menjadi diam.

Lalu dosen tersebut berkata, ”Konon, seseorang masuk surga bukan karena apapun melainkan karena satu hal; seberapa tinggi ia menjunjung emansipasi wanita. Ingat…! Surga terletak di bawah telapak kaki ibu.


Menjadi Diri Sendiri

Itulah emansipasi wanita, secara konsep memang selalu multi tafsir. Dan menurutku, dari adanya multi penafsiran itulah menunjukkan bahwa emansipasi itu ada. Kadang emansipasi diartikan sebagai kebebasan, meski sebetulnya fenomena tafsir selalu menunjukkan sebaliknya; tidak adanya kebebasan. Dan jika diraba, emansipasi wanita berarti kebebasan kaum wanita.

Tapi jangan mudah percaya begitu saja. Kita harus kritis, pengertian bebas itu bagaimana? Bukankah kebebasan itu tanpa batas. Dan ketika kebebasan sudah dibatasi berarti kebebasan itu hilang. Karena bebas sudah bertemu dengan lawannya, sama hal dengan plus (+) jika bertemu minus (-) pasti menjadi netral (0). Memang dalam kenyataannya kebebasan kita selalu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Dengan kata lain, kebebasan hanyalah semu.

Kebebasan seorang wanita untuk mendapatkan/menjadi apapun selalu terbentur oleh kodratnya sendiri sebagai wanita. Sehebat apapun wanita ia tetaplah wanita, tapi bukan berarti wanita tak bisa menjadi apapun. Dan yang pasti, wanita bisa menjadi dirinya sendiri.

Secara politis, emansipasi wanita diartikan sebagai persamaan derajat antara wanita dan pria. Wanita harus disejajarkan dengan pria dalam segala aspek sosialnya (persamaan gender). Apa yang bisa dilakukan pria, wanita juga bisa atau bila diperlukan, wanita mampu bertukar posisi dengan pria. Dengan demikian posisi wanita sebagai ­second sex menjadi berubah. Wanita tidak lagi diidentikkan dengan dapur, sumur dan kasur tapi posisinya sejajar dengan pria. Selama ia mampu, wanita berhak “menjadi pria.”

Secara sosial gagasan emansipasi wanita itu mungkin, namun secara psikologis wanita tetaplah wanita dan wanita tetap harus dibedakan dengan pria. Memang secara alamiah, ada ruang di mana wanita harus menjadi dirinya sendiri dan tak mungkin wanita harus dianggap pria. Katakanlah, wanita yang hamil tidak mungkin dianggap tidak hamil. Bagi anaknya, seorang ibu tetap akan menjadi ibu meski ia bisa memainkan perannya sebagai ayah.

Aku lebih tertarik mengartikan emansipasi wanita sebagai kebebasan seorang wanita untuk menjadi dirinya sendiri. Seorang wanita harus menjadi dirinya sendiri dan memposisikan diri sesuai perannya. Di saat harus menjadi seorang ibu, ia adalah seorang ibu dan di saat harus menjadi presiden, ia adalah seorang presiden. Seorang yang menjadi diri sendiri akan mampu menjiwai perannya sebagai apapun dalam konstruk sosial maupun psikologisnya. Sehingga dapat berjuang semaksimal mungkin mengoptimalkan kemampuannya. Singkatnya, emansipasi wanita menuntut seorang wanita mampu mempertanggungjawabkan perannya sebagai diri sendiri. []


Monday April 28, 2008 - 09:25am (ICT) Permanent Link | 19 Comments
LaM WaT DoZen_Q

Assalamu'alikum….

Namaku Ngutsman Mukromin, begitulah orang tuaku mewariskannya dulu. Nama yang aku sendiri belum tahu entah apa maksudnya. Jika kata "Ngutsman" tertuju pada Sayyidina 'Utsman ibn 'Affan, mungkin mereka mendo'akanku supaya aku bisa mengikuti keteladanan beliau dalam memperjuangkan Islam. Sedang kata "Mukromin" jika diartikan orang-orang yang dimuliakan, mungkin mereka menginginkan anaknya supaya menjadi orang mulia, selalu dimuliakan dimanapun dan oleh siapapun. Bagiku semua itu terlalu mustahil terjadi, tugas yang terlalu berat untuk dilaksanakan. Atau mungkin, kata "Ngutsman Mukromin" hanyalah pengingatan bahwa 'Utsman ibn 'Affan termasuk salah satu orang yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Selamat 'Id al-Fithri, semoga kita semua termasuk dalam golongan yang 'id al-Fithri. Amin. Bukan malah mohon maaf (kesalahan) lahir dan batin karena menurutku kesalahan tidak untuk dimaafkan begitu saja, tapi untuk dipelajari (dipertanyakan, direnungi dsb.) Karena jika kesalahan memang akan selesai hanya dengan dimaafkan, tentu kebiasaanku ngantuk di kelas akan selesai urusan cukup dengan Ibu memaafkannya. Atau jika ada mahasiswa yang tak diizinkan ikut ujian dikarenakan presensinya kurang, bisa langsung diizinkan cukup hanya dengan ''meminta maaf dan dimaafkan." Bukankah meminta maaf dan memaafkan hanya basa-basi semata? Atau jika benar bahwa semua kesalahan bisa terselesaikan dengan saling memaafkan, tentu ilmu pengetahuan tidak akan berguna.

Dan kadang ketika seseorang meminta maaf padaku, aku menjawabnya, "… Aku sudah terlalu yakin kalau 'salah dan benar' itu tidak ada (wujudnya), atau kalaupun ada tidak untuk dimaafkan tapi untuk dipelajari." Karena bagiku 'salah dan benar' hanyalah persepsi. Dan memang sudah seharusnya, dengan berbedanya persepsi kita masing-masing maka pandangan tentang 'salah dan benar' pun menjadi beragam. Tapi sesungguhnya realitas ini bisu, tidak berucap apa-apa.

Aku mengatakannya begitu mungkin karena aku memang payah dalam beucap (mengungkapkan sesuatu). Sudah lama aku belajar bercerita tapi sampai hari ini, aku hanya baru bisa bercerita lewat tulisan ini. Ya, kuakui! Aku memang bukan yang pandai bercerita (mengungkapkan pendapat) lewat suara oleh karena itu, suara mulutku selalu kaku dan miskin kata.

Muslim temanku, pernah bercerita bahwa Usman itu kaya, mungkin cerita itu benar. Tapi sesungguhnya aku adalah orang yang kaya akan mimpi (cita-cita). Aku membahasakannya "mimpi untuk menjadi Tuhan," sungguh mimpi, terlalu bermimpi….

Bagimana mungkin aku bisa mewujudkan mimpi-mimpiku jika seharian aku hanya tidur terus-terusan, kuliah pun pasti tertidur atau minimal ngantuk. Meski sebetulnya aku tak menginginkan semua itu. Bahkan sampai aku bertanya-tanya: Untuk apa tidur? Bukankah setelah tidur nantinya bangun lagi dan setelah bangun nantinya juga tidur lagi? Tidakkah merupakan proses berulang-ulang yang tiada henti. Bisakah kita tetap terus terjaga (untuk mewujudkan mimpi, setelah selesai) lalu tidur dan tak perlu bangun lagi.

Teman kostku bertanya: apa kaitannya antara tidur dan mimpi? Benarkah mimpi hanyalah sebuah bunga tidur? Berarti tidur baru bisa dikatakan sukses jika bisa bermimpi. Tapi mimpi itu apa? Apakah mimpi (dalam tidur) sama artinya dengan mimpi (cita-cita). Tapi Kalau cita-cita, aku bisa dengan sadar menentukannya sendiri sementara ketika aku bermimpi, aku selalu tidak bisa melawan takdirku sendiri (tak sadar). Atau jangan-jangan aku yang telah keliru mengkategorikan kesadaran. Entahlah….

Ada sesuatu yang menarik ketika aku ngantuk dalam kuliah. Bagiku ngantuk merupakan suatu perbatasan antara sadar dan tak sadar. Sadar dalam arti aku dapat mengendalikan diriku sendiri atau merasakan (masih bisa berpikir sambil melihat dan mendengarkan dosen yang memberi kuliah) lalu tiba-tiba lessss… aku sudah tak lagi dapat merasakan apa-apa. Sayangnya ketika aku sedang ngantuk, tidak selamanya bisa sadar kalau 'aku sedang ngantuk'.

Mungkin jika aku dapat mengendalikan kesadaranku selalu, aku dapat mengendalikan ngantukku, tidurku dan bahkan mimpiku. Dan jika demikian, aku bisa membuat dunia baru di alam mimpi, layaknya orang membuat dunia maya sekarang dan bisa dengan mudah diakses oleh siapapun.

Terima kasih.

Wassalam.

Padepokan Empujaya, 23 Oktober 2007

Tags: hari-hariku
Wednesday February 6, 2008 - 04:49pm (ICT) Permanent Link | 16 Comments
Catatan Sunyi

Habibah itukah kau, orang yang senantiasa merindukan kedatanganku setiap waktu sampai kau pun menunggu berlama-lama di depan pintu. Sudahlah, kau tak perlu lagi lakukan itu. Yakinlah aku pasti datang menjemputmu tapi tidak untuk hari ini, walau sebenarnya aku menginginkan sekali. Aku masih harus menyelesaikan perjalanan panjang pencarian jawab mimpiku yang sebentar lagi pasti usai. Sungguh, aku betul-betul menangis di penderitaan ini. Tapi aku belum bisa berbuat apa-apa untuk menemukan jawab dan memastikan cinta kecuali dengan melalang buana.

Di sini, berlembar-lembar kata yang harus kubaca demi karena hakikat cinta. Sesekali aku pun harus berpuasa untuk mendapatkannya. Bahkan kantuk-bangun, bangun-kantuk yang harus kujalani hanya demi kepastian abadi tentang cinta sejati.

Aku tidur malam dan harus bangun pagi, menantang sepi di lorong dingin, menatap hati dan memalingkan rasa yang terus menggoda dengan seribu jalan nestapa, terus kucoba berlari. Tapi… ah, bersabarlah habibahku.

Habibah, jangan kau marah jika aku bukan manusia lagi. Jangan kau benci jika aku bukan lagi arjuna sang penakluk hati. Kini jika kau masih mau melihatku, aku telah menjadi sang filsuf mendung yang terus bingung mencari arah ke sana-ke mari. Aku terus menilik, mencari hakikat di balik hakikat hanya demi sebuah hakikat. Entah aku mewujud atau tidak, aku tak tahu lagi. Tapi yang pasti, di akhir perjalananku ini aku harus menemukanmu tersenyum manis dan erat memelukku dalam hangatnya cinta.

Naluriku berkata; kau ada dan akan selalu ada di sana, ujung akhir perjalananku. Cepat atau lambat, waktu pasti akan membuktikannya. “Bagaimana mungkin aku tersesat jikalau semua jalan menuju ke arahmu?” Aku yakin kau pasti ada di balik tabir takdirku. Dan jika tiba saatnya aku harus menemuimu, aku tinggallah menyibak tabir kelam itu. Aku pasti mendapatkanmu.

Selamat malam habibahku, kini aku sudah harus tidur lagi untuk kebangunan di esok pagi. Perjalanan ini masih harus dilanjutkan demi kedamaian cinta abadi. Demi itulah aku rela meninggalkanmu, meninggalkan dunia lamaku dan kuciptakan dunia baru walau hanya dengan pondasi kalbu. Dan aku yakin masa-masa kelam ini pasti berakhir.

Selamat tidur, terus tunggulah aku, yang pasti datang dalam mimpimu.

[12 Februari 2006]

Tags: habibah
Monday February 4, 2008 - 03:12am (ICT) Permanent Link | 0 Comments

Add Mr. Sap'enZ to your personalized My Yahoo! page:

Add to My Yahoo!RSS About My Yahoo! & RSS
1 - 5 of 12 First | < Prev | Next > | Last

HIGHLIGHTED POSTS