Yahoo! 360° News | Beta Feedback
Start your own Yahoo! 360° page

KiJeroMartani

Top Page  |  Blog  |  Feeds  |  Friends  |  Lists

Add

KiJeroMartani is not connected to you in Yahoo! 360°.

Last updated Mon May 21, 2007 Member since March 2006

Total Page Views

72,676

Lawon Sapta Ngesthi Aji !!! Nyi Ratu Angin-Angin dari Pantai Selatan, Ki Tunggul Wulung Gunung Kelud, Ki Buthalocaya Gunung Wilis. Berperang tanpa bala tentara. Reply

1 - 5 of 117 First | < Prev | Next > | Last

Ki Jero Martani's Blog Full Post View | List View

Tolong isi poling !!!

Yang Pasti Hanyalah Mati

Hidup bagai sebuah garis lurus. Dia tak pernah kembali ke masa yang lalu, tak ada yang bisa diulang, karena dia bukanlah bulatan bola. Seluruh kehidupan, merangkak dan makin mendekat ke titik terakhir yaitu mati. Karena itu, kenapatah kita takut akan sesuatu yang pasti akan terjadi ? Bukankah setiap insan pasti kan mati, dan itu hanya soal waktu. Walau demikian, janganlah kau minta mati datang padamu dan jangan pula berbuat yang menyebabkan kesakitan dan kematian.

Thursday November 22, 2007 - 07:45pm (ICT) Permanent Link | 0 Comments
Adab Seorang Guru

Hari ini (30 Oktober 2007) saya melihat pengumuman penerimaan CPNS dari sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka – UIN Sunan Kalijaga (www.uin-suka.info/projectportal). Perguruan tinggi yang sedang menggeliat menuju universitas modern, dan akan menjadi harapan bangsa di masa datang.

Membaca pengumuman itu, tergerak hati ingin menulis sesuatu tentang Sang Guru, semoga dapat bermanfaat bagi para calon pelamar yang akan bertarung untuk mengabdi dalam rangka ikut serta mencerdaskan bangsa.

Sang Guru sudah seharusnya melaksanakan ilmunya. Jangan sampai mengajar ”sholat”, namun dia sendiri tak pernah melakukannya dengan kesungguhan hati. Perbuatannya tidak mendustakan perkataannya, karena ilmu diketahui dengan mata hati (bhasirah) dan amal diketahui dengan mata, sedangkan orang yang memiliki mata jauh lebih banyak. Jikalau amal perbuatan sang guru, bertentangan dengan ilmu, maka ucapan, pikiran dan laksananya, tidak akan memiliki daya bimbing.

Sangat mudah menggoyang lidah dan berkata, ”Janganlah kalian melakukannya”, namun itu bisa menjadi racun yang membinasakan. Engkau berkata ”hindari menyakiti hati seorang istri”, namun dengan berbagai alasan yang dibuat masuk akal, tetap melakukan poligami. Orang-orang akan melecehkan dan menuduhnya, bahkan keinginannya melakukan apa yang dilarangnya itu semakin besar, seraya mengatakan, ”Kalau bukan karena paling baik dan paling enak pasti ia tidak akan melakukannya”.

Perumpamaan guru terhadap murid, laksana tongkat dan bayangannya, bagaimana bayangan bisa lurus jika tongkatnya bengkok ? Oleh sebab itu dikatakan ”jangan kamu melarang suatu peringai tetapi kamu melakukannya. Aib bagimu, apabila kamu lakukan menjadi dosa besar.

Selamat berjuang, bersiaplah menjadi guru-guru bangsa, pahlawan tanpa tanda jasa !

Tuesday October 30, 2007 - 11:20am (ICT) Permanent Link | 0 Comments
Janji Adalah Hutang

Rasulullah saw bersabda

اَلْعِدَةُ دَيْنٌ

Janji adalah hutang.

Ketika kampanye pemilihan Presiden dahulu, Susilo Bambang Yudhoyono dapat merebut simpati rakyat, dengan memberikan janji untuk melaksanakan ”perubahan secara cepat” terhadap permasalahan bangsa dan negara. Setelah terpilih, maka menggelegar bagai guntur di kemarau panjang, program 100 hari, yang seolah memberi harapan adanya perubahan cepat yang di dengung-dengungkan selama kampanye. Hanya dengan seratus hari, akan ada hujan yang akan menyejukkan seluruh rakyat Indonesia. Namun ternyata, hujan kesejahteraan yang didengungkan, tidak pernah datang, bahkan rakyat makin menjerit, karena kemarau kemelaratan, sulitnya lapangan pekerjaan, harga-harga nan melambung tinggi, seolah tidak ada solusi dan para pimpinan seolah buta dan tuli.

Oktober mendatang Presiden SBY memasuki tahun ketiga masa pemerintahannya. Hal ini berarti masih ada sekitar 2 tahun bagi eksekutif hasil Pemilihan Presiden 2004 untuk bekerja dan menuntaskan tugas-tugas yang belum terselesaikan. Menurut perhitungan kalender, waktu 2 tahun mungkin dapat dikatakan cukup panjang, namun dalam urusan politik dan kenegaraan yang demikian kompleks, waktu yang tersisa dapat dikatakan relatif pendek. Bahkan jika dikaitkan dengan persiapan menghadapi pemilihan umum, waktu yang tersisa praktis lebih pendek lagi, karena menjelang pemilihan umum, fokus perhatian dan pelaksanaan tugas, baik eksekutif maupun legislatif biasanya hanya sampai dengan pertengahan 2008, dan setelah itu, lebih berkonsentrasi pada persiapan menghadapi pemilu 2009.

Dengan terbatasnya waktu yang tersedia, masyarakat sebenarnya sangat mengharapkan agar pemerintah (presiden dan perangkatnya) dapat segera menuntaskan segala permasalahan yang dihadapi oleh bangsa dan negara ini. Karena perubahan cepat yang diharapkan tak kunjung datang, dan yang ada hanya program tebar pesona, maka masalah krusial yang dihadapi sekarang adalah merosotnya tingkat kepercayaan publik terhadap duet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Wakil Presiden Yusuf Kalla, merosot hingga hanya tinggal 49%, padahal pada Desember 2006 popularitas SBY masih kisaran 67%. Bahkan hasil survey Van Zorge pada Januari 2007 lebih buruk lagi, popularitas SBY tinggal 25% (Kompas, 3 April 2007). LSI memprediksi, tahun 2009, tingkat kepercayaan publik terhadap SBY tinggal 30%. Sedangkan tingkat keterpilihan (probabilitas) SBY yang sekarang berada pada kisaran 38%, pada 2009 tinggal 25-30% (Kompas, 11 April 2007).

Angka kemiskinan bukannya berkurang bahkan makin bertambah. Dalam 2 tahun masa pemerintahan SBY, angka kemiskinan terus meningkat (sekarang sekitar 50 juta termasuk diantaranya sangat miskin 20 juta), pengangguran terbuka bertambnah menjadi 11.6 juta berarti sekitar 10,84% dari jumlah penduduk (belum lagi pengangguran terselubung), sementara itu pemerintah sangat bangga dengan pelunasan hutang ke IMF yang dikatakan sebuah prestasi pemerintah.

Angka pengangguran terbuka di atas 10% ini amat tinggi jika dibandingkan dengan beberapa negara asia lain, seperti Vietnam (6.1%); Thailand (1.5%), Malaysia (3.4%), Korea (3.7%) dan Singapura (4.8%).

Investasi yang dijanjikan juga tidak kunjung datang. Kompas tanggal 18 oktober 2006 menulis bahwa selama 2 tahun berkuasa SBY sudah melakukan kunjungan ke 27 negara (sampai dengan oktober 2007) sudah lebih 30 negara. Bila dirata-rata, berarti setiap bulan SBY melakukan kunjungan ke luar negeri. Padahal waktu kampanye, SBY pernah mengatakan akan mengurangi kunjungan ke luar negeri bila terpilih menjadi presiden dan akan memprioritaskan urusan dalam negeri.

Namun sayangnya, SBY sendiri mengakui bahwa, kunjungan tersebut belum memberikan hasil apa-apa, khususnya bagi peningkatan investasi di Indonesia. Dengan kata lain, pemerintah telah GAGAL TOTAL dalam menarik investor ke Indonesia, padahal ketika berkunjung ke negara-negara Timur Tengah, SBY mengatakan akan menyambut investor dengan karpet merah, namun nyatanya investor Arab lebih memilih menanamkan modal mereka di China, Vietnam, Korea Selatan, dan negara-negara lain, dan tidak ada yang diinvestasikan di Indonesia.

Politik perberasan juga sangat memukul petani terutama dengan adanya kebijakan impor beras. Operasi pasar yang diharapkan dapat membantu rakyat miskin untuk menyambung hidup sehari-hari ternyata hasilnya sangat tidak memuaskan dan boleh dikatakan gagal. Di tengah mitos gemah ripah loh jinawi maka rakyat Indonesia, bagi tikus mati di lumbung padi.

Politik luar negeri juga amburadul, negara kita hampir ”dijual” dengan adanya perjanjian kerja sama Pertahanan dengan Singapura (Defence Cooperation Aggreement) antara Pemerintah Indonesia dengan Singapura. Dimana kalau dicermati dengan seksama menunjukkan betapa lemahnya posisi Indonesia sebagai negara yang berdaulat dengan luas wilayah dari Sabang Sampai Merauke, berhadapan dengan sebuah negara kota seperti Singapura. Untunglah partai oposisi dengan garang mengkritik habis perjanjian ini, sehingga akhirnya dibatalkan.

Dari fakta-fakta di atas, sudah jelas, kita harus hati-hati dengan janji-janji manis para pemimpin. Janji-janji yang tidak di lengkapi dengan strategi untuk implementasi, hanyalah hayalan dari orang yang selalu merasa bisa namun tidak bisa merasa (rumangsa bisa ning ora bisa rumangsa). Sepertinya bangsa ini perlu lebih cerdas memilih pemimpin. Percuma kita memilih pakar bicara namun tanpa karya, percumah memilih yang kelihatan gagah namun hatinya ragu dan lemah. Percuma memilih orang yang hanya pandai menebar janji tanpa implementasi.

Sodara-sodara sebangsa dan setanah air,

Rasulullah saw bersabda, Janji Adalah Hutang. Dan Hei Susilo Bambang Yudhoyono, Pemimpin Tertinggi di Republik ini, simaklah surat al-Isra ayat 34, dimana Allah swt berfirman:

... وَاَوْفُوْا بِالْعَهْدِ اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُوْلاً

... dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.

Mana janji perubahan cepat yang engkau umbar saat kampanye dulu ? Jangan-jangan ketika mengucap janji dahulu itu, kamu sendiri tidak tahu strategi untuk implementasinya. Hanya di mulut saja, dan hanya untuk keinginan sesaat merebut kedudukan, kamu tega membohongi berjuta-juta rakyat Indonesia, yang menaruh harap kepadamu.

Aku tidak berani menyebut engkau bodoh, karena engkau mempersepsikan dirimu sebagai seorang jenderal dan doktor pertamian yang luar biasa pintar. Karena aku menganggap kamu tidak bodoh, maka terpaksa aku berkesimpulan bahwa engkau adalah orang yang telah berani melanggar janjimu sendiri. Ingatlah hai SBY, janji adalah hutang, penuhilah itu, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya. Hentikan merancang alasan kegagalan anda ... rakyat tak butuh tebar pesona, mereka butuh karya nyata ... mengaku sajalah bahwa ketika berjanji dulu, anda belum tahu bagaimana cara mengimplementasi janji anda...

Hei pemimpin-pemimpin Indonesia masa depan, mohon simak serpihan serat wedhatama di bawah ini, camkan maknanya, jangan pernah engkau merasa bisa namun tak pernah bisa merasa.

Ngelmu iku

Kalakone kanthi laku

Lekase lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setya budaya pangekese dur angkara

Jangan percaya lagi, pimpinan tebar janji tanpa implementasi,

Jaya kembali tanah nusantara,

merdeka ... merdeka ... merdeka !!!

Kaki Gunung Wilis, 10 Oktober 2007

Salam sayang selalu,

Ki Jero Martani

Komentar anda tentang Janji-janji SBY yang belum ditepati ?
Kinerja sesuai dengan janji kampanye
0
Belum sesuai dengan janji kampanye
8
Nggak tahu
0
Sign in to vote
Thursday October 11, 2007 - 01:58pm (ICT) Permanent Link | 0 Comments
Keris Sangkelat dan Crubuk

Dandanggula

Sunan Kalijaga angadika aris / sun arani keris dapur sangkelat / dene kris abang warnane / nanging iki tan patut / dipun enggo wonglaku santri / iki pantes kagema / mring patingginipun / negara ing pulo Jawa / wus pinasti besuk dadi pusaka ji / kang mengku nusa jawa //

Lah pundinen jebeng ingkang becik / bokmanawa sira darbe darah / kang mengku nusa Jawane / nulya tinampen gupuh / mring ki Supa duwung pinundi / angling malih jeng sunan / gawekna ingsun / coten pranti pambelehan / ingkang pantes dienggo wong laku santri / ??? ko sun golek tosan //

Alkisah Sunan Kalijaga mendatangi sanggar Mpu Supa yang sedang sibuk membuat senjata. Mpu Supa adalah suami dari Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga meminta tolong untuk dibuatkan keris coten-sembelih (pegangan lebai untuk menyembelih kambing). Lalu oleh beliau diberikan calon besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa.

Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Ia berkata "Sunan, besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya. Akan tetapi apakah besi sebesar biji asam jawa ini cukup dibuat keris ?". Lalu Sunan Kalijaga berkata : "Nak, besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung". Karena ampuh perkataan Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi menjelma sebesar gunung.

Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantara itu, empu Supa berlutut dan takut. "Sunan, bila besi sebesar itu, saya tidak sanggup mengerjakan karena tidak dapat dijepit." Sunan Kalijaga berkata lagi "Nak sebenarnya besi itu besarnya hanyalah sebesar biji asam jawa saja. Pada saat itu juga besi kembali menjadi sebesar asam jawa lagi.

Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan. Tidak lama, jadilah keris, kemudian diserahkan kepada Sunan Kalijaga. Akan tetapi anehnya begitu melihat bentuknya, seketika juga Sunan Kalijaga menjadi kaget, sampai beberapa saat tidak dapat berbicara karena kagum dan tersentuh perasaannya, karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Maksud semula untuk dijadikan pegangan lebai, ternyata yang dihasilkan keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tiga belas bagus sekali serta indah warangka-nya, tetapi sepi dari sifat-sifat keislaman. Sebenarnya, begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Sunan Kalijaga agak tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa, ”Nak, keris ini bagus sekali. Akan tetapi bila dipergunakan oleh santri tidaklah pantas. Keris ini pantas menjadi pegangan Raja yang menguasai Nusantara. Karena berwarna kemerahan, keris ini saya namakan dapur Sangkelat (artinya bersemu merah). Sekarang keris ini saya kembalikan, simpan ! Bagaimana akan kejadiannya nanti, saya sendiri tidak tahu. Selain Tuhan Yang Maha Esa yang menjelaskannya. Akan tetapi sekarang saya minta dibuatkan keris lagi yang patut digunakan oleh santri.

Empu Supa diberi lagi besi yang ukurannya sebesar kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan sunan Kalijaga sangat senang hatinya. Dapur keris itu disebut Crubuk.

Sodara-sodara pembaca blog yang terhormat,

Percayakah sodara dengan cerita di atas ? Untuk ukuran orang modern, alur cerita seperti di atas seperti meng-"hina" logika kita. Masak ada besi, bisa berubah jadi gunung ?! Sekali lagi, cerita di atas, merupakan pasemon / tamsil / perlambang untuk menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Mari kita coba "membayangkan" cerita itu dari sudut lain.

Sunan Kalijaga adalah ulama yang memberikan arah gerakan Islam yang sudah mampu mendirikan kabupaten Islam Demak Bintara. Sedangkan Mpu Supa adalah lambang penuntun gerakan rakyat yang memiliki keinginan untuk mereformasi ke tata-negaraan saat itu, dan bercita-cita untuk membangun negara nasional seperti yang dicita-citakan Gajah Mada, serta bebas dari tatanan kasta. Kehendak reformasi itu mungkin terjadi karena saat itu kerajaan Majapahit telah rapuh.

Kehendak Sunan Kalijaga untuk membuat senjata untuk menyembelih hewan, mengandung arti bahwa pada waktu itu, gerakan yang dipimpin oleh para wali, meminta bantuan pada pemimpin gerakan rakyat, hanya bertujuan untuk menggulingkan raja yang sedang berkuasa. Bakal besi yang besarnya sebesar biji asam jawa, tetapi bobotnya sangat berat sekali, merupakan perlambang bahwa, meski kabupaten Islam Bintara itu kecil wilayahnya, tetapi pembentukannya menjadi beban yang berat sekali, menguras benda, tenaga dan pikiran. Empu Supa kecewa karena besi bakal itu terlalu kecil, lambang ini berarti bahwa gerakan rakyat yang mempunyai cita-cita besar untuk mempersatukan Nusantara, belum puas dengan berdirinya kabupaten Islam Bintara itu. Sunan Kalijaga berkata bahwa besi bakal sebesar biji asam jawa akan menjadi gunung, berarti bahwa, meski saat ini Islam Bintara itu kecil, tetapi bila gerakan rakyat (gerakan kelompok Empu Supa) bersedia ikut bergabung, tentu Bintara akan menjadi kerajaan Islam yang makmur.

Empu Supa tak sanggup menggarap besi yang sebesar gunung, sebagai perlambang bahwa Demak Bintara yang mengutamakan kebudayaan Arab, akan sulit untuk berkembang, karena berbeda dengan kebudayaan Majapahiit serta kebudayaan penduduk asli. Dan sulit sekali dibangun kerajaan nasional yang bertugas melindungi seluruh penduduk yang menganut kepercayaan, adat serta tata cara beraneka warna.

Bakal besi kemudian digarap oleh Empu Supa menjadi keris Nusantara asli Majapahit. Sangat bagus, namun kosong dari sifat Islam, maksudnya gerakan rakyat yang dipimpin empu Supa tetap menghindari pembentukan kabupaten Bintara yang didasarkan agama Islam, tetapi hendak menjalankan maksudnya sendiri yaitu berdirinya negera nasional Nusantara yang bebas dari tatanan kasta dan tidak didasarkan pada salah satu agama, sebagai ganti kerajaan Syiwa-Buddha majapahit. Dinamakan keris Jawa (Nusantara) tulen bertangguh Majapahit, menjadi perlambang bahwa kebudayaan Jawa (Nusantara) asli, yang tidak mengakui tatanan kasta, tetapi tidak menolak kebudayaan Majapahit yang dengan corak dan tatanan pemerintahan seperti pada masa Hayamwuruk dahulu.

Warna kemerahan dari keris sangkelat, merupakan perlambang kuatnya potensi gerakan kelompok Empu Supa pada masa tersebut. Ketika melihat keris sangkelat, Sunan Kalijaga perasaannya tersentuh. Maksudnya, sesungguhnya Sunan Kalijaga sangat setuju dengan arah dan cita-cita perjuangan kelompok Empu Supa. Sunan Kalijaga memerintahkan agar membuat lagi keris dapur cerubuk, maksudnya bahwa meskipun tidak cenderung dengan berdirinya kabupaten Islam Bintara, tetapi gerakan Islam memaksa untuk meminta dukungan supaya kelompok Empu Supa bersedia ikut membantu perjuangannya.

Semoga "bayangan" ini bisa memberi pemicu untuk menggali sudut pandang yang berbeda dalam mengupas cerita-cerita lama.

Pendapat anda ?
Insipiratif
7
Biasa
0
Kurang
0
Sign in to vote
Tags: sejarah
Tuesday October 2, 2007 - 03:23pm (ICT) Permanent Link | 1 Comment
Reshuffle untuk Persepsi 2009

Gonjang-ganjing Reshuffle sudah mereda dengan kelauarnya pernyataan resmi Presiden bahwa keputusan penting itu akan dieksekusi pada awal Mei yang akan datang. Lalu siapa-siapakah yang akan diganti nantinya ?

Saya tidak memiliki data akurat tentang itu, juga tidak pernah mendapatkan bocoran atau tak pernah mendengar cerita dari lingkaran dalam Istana. Namun ada yang dapat saya prediksi tentang reshuffle itu, dilihat dari pola manajemen persepsi publik yang selama ini dilaksanakan.

Hampir dapat dipastikan Menteri yang akan dicopot dari jabatannya adalah Syaifullah Yusuf. Menteri berkumis miskin prestasi ini, dikenal bukan dari karyanya tapi dari "keributan" yang ditimbulkan di panggung politik, serta kegiatan-kegiatan olah raga untuk menarik media massa.

Selain karena minim prestasi, kementrian ini harus "diamankan", karena dapat digunakan sebagai kendaraan untuk membangun persepsi publik. Diyakini kementrian ini akan dipegang oleh lingkaran dalam presiden dan pada tahun 2009 nanti akan diberikan porsi anggaran yang luar biasa besar, dengan alasan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kegiatan-kegiatan kunjungan ke kantong-kantong kemiskinan di Republik ini, pada tahun 2009 akan dilaksanakan secara intensif yang sebenarnya bukan untuk benar-benar mensejahterakan mereka secara jangka panjang, namun sebenarnya kental dengan keinginan "rendah" membangun persepsi jangka pendek pemilihan presiden dan untuk menyatakan kepada publik bahwa Presiden sudah memperhatikan mereka.

Mereka sangat paham bahwa rakyat sangat mudah untuk di"kibuli" persepsinya. Walau pemerintahan ini gembar-gembor menyatakan diri berprestasi, sesungguhnya yang mereka kejar hanyalah persepsi bukan substansi.

Nah ... kalau prediksi saya benar bahwa kementerian daerah tertinggal ini akan diganti oleh lingkaran dalam presidan, lalu pada 2009 anggaran akan melonjak tajam, maka pada akhirnya kita dapat simpulkan bahwa Kabinet ini tidak pernah memikirkan substansi, namun hanya mengejar persepsi.

Dan seluruh kegiatan reshuffle difokuskan untuk menterjemahkan strategi membangun persepsi itu menjadi langkah-langkah operasional yang akan didukung anggaran departemen tahun 2009 yang tentu harus dibahas oleh menteri-menteri baru tahun 2008 yang akan datang.

Bagi mereka yang mengejar persepsi, reshuffle sudah harus menjadi sesuatu yang pasti.

Karena itulah, kemungkinan partai-partai besar yang telah ber-"onani" tak akan pernah mencapai klimaks - karena presiden punya grand strategy lain untuk menterjemahkan visi pribadi jangka pendek 2009 menjadi kegiatan operasional yang didukung dana gratis APBN.

Sontoloyo ! Alam akan segera membalas niat bejat pejabat penjahat, selalu berfikir khianat, mereka pasti akan terkena laknat, karena sesungguhnya keputusannya tak pernah berpihak pada rakyat.

Pendapat anda ?
Inspiratif
2
Biasa
1
Kurang
1
Sign in to vote
Sunday April 22, 2007 - 09:45am (ICT) Permanent Link | 1 Comment

Add Ki Jero Martani's Blog to your personalized My Yahoo! page:

Add to My Yahoo!RSS About My Yahoo! & RSS
1 - 5 of 117 First | < Prev | Next > | Last