Bahagia :: Damai :: Produktif
Suasana di luar ruang yang sejuk dibasuh gerimis pagi seperti menembus dinding kaca gedung, menghadirkan hal yang sama di dalam. Ditemani teh dan makanan ringan, ngobrol-ngobrol dengan orang yang satu sekolah dengan kandidat presiden AS Barrack Obama di SD negeri di Jalan Besuki, Menteng, menjadi hangat.
Apa yang terpancar di wajah Hiramsyah mewakili latar belakang kehidupannya. Dia tumbuh dalam lingkungan yang kondusif. Dia adalah produk dari keluarga berpendidikan, penuh kasih sayang, religius, berjiwa sosial, pintar, dan berkembang dalam nilai yang menekankan bahwa tidak ada yang instan untuk menggapai kesuksesan.
Lahir dari keluarga berpendidikan karena kakeknya yang pada 1898 saja sudah bergelar Mr, sarjana hukum pada zaman penjajahan Belanda, Hiramsyah mengaku membekali anak-anaknya dengan pendidikan yang baik. "Ruang terbesar di rumah saya adalah perpustakaan," katanya.
Dia sendiri menargetkan untuk membaca setidaknya dua buku dalam sebulan. Pertama, buku yang berkaitan dengan profesinya seperti manajemen, dan kedua, buku yang berkiatan dengan pengembangan diri. Saat ini dia mengaku memiliki 1.000 buku di rumahnya.
Dia terngiang dengan perkataan kakeknya saat dia duduk di kelas 3 SD mengenai Malaysia. Negara itu menghabiskan dana yang relatif besar untuk mengembangkan pendidikan dan hasilnya dirasakan sekarang.
Meski menekankan pendidikan, dia tidak menjejali anak-anaknya dengan seabrek buku. Mereka juga dibiarkan bermain, bersosialisasi, menjalin hubungan dengan teman. "Bukan hanya skill, mereka juga perlu networking,"ujar pengagum Presiden Pertama RI Soekarno ini.
Anak pertama dari pasangan Hamim Rusdi Thaib dan Rr. Budhy Utami Sayekti ini menginginkan anak-anaknya kelak mempunyai pendidikan lebih baik dari dirinya. Segala hal yang berkaitan dengan proses kreatif yang dibutuhkan buah hatinya, dengan ringan tangan dia akan menyediakannya, seperti membelikan mereka laptop, kamera.
Belajar dan hidayah
Hirmansyah lahir dengan IQ mendekati superior yang menjadi modal dasar baginya menyerap pengetahuan dengan relatif mudah. Namun, dia tidak puas dan terus membekali diri dengan keterampilan dan pengetahuan baru, seperti pengalamannya saat menjadi 'tukang gambar' di proyek properti Bumi Serpong Damai (BSD).
Ketika itu, karya arsitekturnya yang disiapkan dengan susah payah tidak dihargai oleh manajemen BSD. "Kalau cuma bisa menggambar, hanya akan jadi kuli."
Dia memutuskan untuk belajar ekonomi dan manajemen. Kebetulan saat itu Bank Niaga membuka Management Development Program (MDP) bagi sarjana dari semua jurusan. Dia pun bergabung di dalamnya dan mendapatkan banyak pelajaran mengenai ekonomi, finansial, manajemen, dan kepemimpinan.
Menurut pengoleksi botol dan aksesori minuman Coca Cola ini, di Bank Niaga itulah perjalanan karier profesionalnya dimulai pada 1991 hingga 1997 dengan jabatan mulai dari staf pengawas kredit hingga manajer senior bisnis.
Di bank ini dia sempat menorehkan sejumlah prestasi a.l. menerima Special Recognition Award for Outstanding Performance & Contribution. Penghargaan ini hanya diberikan kepada 1% staf Bank Niaga yang memiliki prestasi sangat baik. Dan pria kelahiran Jakarta, 7 Mei 1962, ini adalah staf pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut sebanyak dua kali.
Bagi Hiramsyah, zikir, pikir, dan ikhtiar, adalah tiga modal utama menjalani hidup yang sudah dijalaninya selama 46 tahun.
Namun, dari ketiganya itu, pria yang memiliki hobi bermain tenis, bela diri, membaca, dan bepergian, merasa tidak terlewatkan mendapatkan hidayah yang membuatnya selalu tepat menapaki jenjang karier dan memilih strategi paling jitu untuk sukses di hidup. "Karena banyak teman saya yang pintar dan punya strategi tetapi tidak mencapai puncak karir karena kurang mendapat hidayah," ujar pria yang menikah pada usia 27 tahun ini.
Hiramsyah merasa setiap detik adalah proses pembentukan diri. Namun, tidak cukup hanya sampai di situ, dia masih berkeinginan bahwa suatu saat hidupnya harus memberikan manfaat bagi orang banyak.
Salah satu upaya yang dilakukannya untuk memberikan manfaat baik kepada orang lain adalah dengan menjadi dosen di Bakrie School of Management.
Karena mengajar menurutnya merupakan bagian dari amal ibadah yang selalu berujung pangkal pada kebaikan. Selain perbuatan baik yang hingga saat ini masih terus dilakukannya kepada semua orang, yang menurutnya merupakan didikan yang ditanamkan kedua orangtuanya sejak masih kecil.
Melalui jalan apa pun, bapak dua anak ini berharap apa yang dilakukannya bisa membantu orang lain dan memberi manfaat kebaikan, termasuk bekerja di kelompok usaha Bakrie, yang menurutnya merupakan kendaraan untuk memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat.
Apalagi di lingkungan kelompok usaha Bakrie, Hiramsyah dikenal sebagai 'turn-around CEO' yakni CEO yang dianggap mampu mengubah perusahaan yang tadinya merugi menjadi untung.
Karena itu, dia ingin perusahaan yang dipimpinnya, Bakrieland, menjadi besar, sehat, dan bermanfaat.
"Jangan pernah malu melakukan apa yang baik. Karena semua yang dijalankan dengan niat baik pasti akan memberikan manfaat baik juga untuk kita," ujarnya dengan mimik serius.
Perbuatan baik itu juga yang selalu dia ajarkan kepada dua buah hatinya. Selalu berusaha untuk menjadi orang baik dan melakukan perbuatan baik.
BIODATA
Nama : Hiramsyah Sambudhy Thaib
Tempat/tgl lahir : Jakarta, 7 Mei 1962
Pendidikan formal:
1968 -1974 : SD Besuki Jakarta
1975 - 1977 : SMPN I Jakarta
1978 -1981 : SMA III Jakarta
1981 - 1989 : Fakultas Arsitektur, Institut Teknologi Bandung
2002 - sekarang : Kandidat MM & MBA IPMI- Monash University
Pengalaman kerja:
April 2007 - sekarang : Presdir & CEO PT Bakrieland Development
2006 - 2007 : Komisaris PT Bakrieland Development
2005 - 2007 : CEO PT Bakrie Capital Indonesia
2004 - 2005 : Presdir PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN)
1997 - 2004 : Presdir & CEO PT Bakrie Nirwana Resort
1997 : Wakil Dirut PT Bakrieland Development
1991-1997 : Bank Niaga dengan berbagai posisi, terakhir sebagai Senior Business Manager.
1986 : Assistant Site Planner Bumi Serpong Damai
dikutip dari: bisnis indonesia