jika kau seorang laki laki teguhkan hatimu menatap wajahNya yang menawan,karena wajahnya adalah kiblat manusia ( D 4311 )
mencari jejak siratan ayat ayatMu
Rupa pagi di dinding beranda
Bergambar kisah paderi tanpa sesaji.
Langit muda di dahinya bertumpu di satu sudut tatap
Entah kutuk atau mantera yang tiba ketika asap dupa semu menggauli matanya
Ada tuju, ada laluan niat di tiap celah pintu
Ada kerontang yang menyusuri dedaun berembun
Angin pagi di syair jendela
Melirih memanggil, walau burung gagak berhasrat pergi.
Lagunya amsal belati,
Mencari nadi yang hilang denyut di kasur kapuk
Ketika nafas tak sepadan helaan
Ada ruang, ada sengal mencemari langit-langit
Ada lelaki yang acap mengukur ajal di rumahnya sendiri.
Banda Aceh, 27 Juli ‘08
ARUNG
: Rahmalia
pelayaran ini disahihkan matahari
kepak-kepak camar bermain sinar
terik ikat-mengikat demi hati
seusai ikrar yang tak bisa ditakar
tak adapun reruntuhan ombak sebagai aral
dan palung-palung adalah syair laluan niat
dimana tembang kedalaman tak pernah disangkal
kemudi menyanyikannya dalam hakikat
kemudian badai, temaramkah mendungnya ?
bila kita memainkan dawai-dawai angin
sembari bersiul lagu cinta yang gempita
lalu senyawa peluk menghambarkan dingin
jauh, lautan sudah terduga
nusa-nusa singgahan kita puisikan
dalam biduk marwah yang terjaga
hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan
Banda Aceh, 1707 ‘08
Sajak ini mendapat banyak tanggapan/kritikan saat dimuat di Warung Puisi, awalnya karena ada yang menganggap terlalu tradisional dan menganut ( tidak jujur ) gaya puisi lama dengan kosakata melayu yang dominan. Namun akhirnya menjadi ajang diskusi yang menarik karena terjadi diskusi panjang antara para penyair atau penikmat puisi yang ada di Warpus.
Padahal puisi ini sebenarnya puisi yang aku dedikasikan buat istriku tercinta, Rahmalia, sebuah ungkapan yang lebih untuk memotivasi aku dan keluargaku tentang sebuah 'pelayaran' yang sedang kami diarungi, dimana banyak ombak, palung, bahkan badai yang bergilir mencari kekokohan tiang-tiang layar kita.
Berikut apresiasi puisi yang ditulis oleh Dedy Tri Riyadi untuk puisi ini :
Reply by Dedy Tri Riyadi on July 25, 2008 at 9:57am
Sebuah Penjelahan Masa Lalu
untuk Hari-hari Perjalanan Panjang
ke Depan
ARUNG
: Rahmalia
pelayaran ini disahihkan matahari
kepak-kepak camar bermain sinar
terik ikat-mengikat demi hati
seusai ikrar yang tak bisa ditakar
tak adapun reruntuhan ombak sebagai aral
dan palung-palung adalah syair laluan niat
dimana tembang kedalaman tak pernah disangkal
kemudi menyanyikannya dalam hakikat
kemudian badai, temaramkah mendungnya ?
bila kita memainkan dawai-dawai angin
sembari bersiul lagu cinta yang gempita
lalu senyawa peluk menghambarkan dingin
jauh, lautan sudah terduga
nusa-nusa singgahan kita puisikan
dalam biduk marwah yang terjaga
hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan
Banda Aceh, 1707 ‘08
Sajak ini ditulis sebagai dedikasi untuk seseorang. Kemungkinan besar akan mengutarakan perasaan si penulis terhadap orang tersebut. Tetapi tidak salah jika ada kata "kita" di sana bisa juga diibaratkan si pembacalah yang ingin diajak penyair sajak ini dalam perenungannya.
Garis besar dari sajak ini berbicara mengenai perjalanan, dalam hal ini adalah perjalanan lewat laut atau sering disebut pelayaran. Pada bait pertama dijelaskan bahwa pelayaran ini disahihkan matahari, diibaratkan bahwa perjalanan ini sudah menyerupai hari-hari itu sendiri, karena hari itu ditentukan dengan terbitnya matahari, bukan? Tapi sebelumnya, lihatlah betapa penyair berusaha keras menjaga bentuk keseluruhan puisi ini dalam bait-bait yang teratur rimanya a-b-a-b, c-d-c-d, e-f-e-f, g-h-g-h. Ini menunjukkan keseriusan si penyair untuk memanfaatkan alat-alat puitika.
Kembali ke bait pertama, bahwa dalam hari-hari perjalanan "aku lirik" ada pengertian yang didapat olehnya bahwa "terik" yang terjadi pada hari-hari itu justru merekatkan ("ikat-mengikat") hati si "aku lirik" dengan "dia" yang untuk itu sajak ini ditujukan. Larik "kepak camar ..." agaknya dijadikan semacam "kembangan" hanya untuk menyambung "sesuai ikrar ..." itu. Jika kedua larik ("kepak camar..." dan "sesuai ikrar...") dihilangkan, sebenarnya bait pertama itu sudah cukup jelas dengan dua larik yang lain ("pelayaran ..." dan "terik...").
Bait kedua memperjelas dan mempertegas kondisi di bait pertama, bahwa ternyata tidak cuma terik hari saja, tetapi "ombak" dan "palung laut", yang biasanya menjadi kekuatiran seorang pelaut, ternyata memang itu suatu keharusan ("hakikat") yang harus terjadi dalam sebuah pelayaran. Bahkan si aku lirik menganggapnya seperti "tembang", seperti "nyanyian" yang sangat bisa jadi bermakna hiburan.
Bait ketiga masih penegasan dari bait pertama, hanya intensitas perasaannya lebih di"tajam"kan lagi, jika dalam sebuah cerita inilah "klimaks"nya. Ada sebuah "badai" dan si "aku lirik" justru meminta "dia" (atau kita yang diajak bicara dengan sajak ini) untuk membesarkan hati bahwa bukan "badai" yang tengah melanda tetapi sebenarnya "kita memainkan dawai-dawai angin" bahkan saat "badai" melanda, si aku lirik mengajak "bersiul lagu cinta yang gempita" karena hal-hal tersebut akan membuat sebuah "senyawa peluk" untuk "menghambarkan dingin."
Bait terakhir mengambarkan sebuah kepasrahan yang mendalam ("hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan") dalam menghadapi semua yang ada baik itu lautan yang sudah disebutkan ada "terik", "ombak", "palung" dan "badai", ataupun persinggahan-persinggahan (bisa jadi ini semacam pengalihan perhatian) yang berupa "nusa-nusa" yang "dipuisikan". Hal itu semua akan bisa terjadi jika (ini permintaan dari si aku lirik) menjaga "biduk marwah."
Terlepas dari penggunaan kata-kata yang biasa terdapat dalam sajak-sajak melayu, ataupun "ke-terlalu taat-an" penyair menjaga rima yang a-b-a-b itu, sajak ini termasuk sajak yang menganut pengertian "utuh dan kompleks" dalam mengemasnya. Sehingga "pesan" di dalam sajak itu tersampaikan dengan baik kepada pembacanya. Bagi saya sebagai penikmat sajak, sajak semacam ini cukup enak diterima dan tidak tertele-tele.
Salam,
Anginmu, ialah lagu yang kutakzimkan.
Pagi-pagimu tlah terhitung dengan embun pada carik-carik daun,
tigapuluh satu helai, tanpa andai.
Walau hari masih ditahbiskan naifnya mimpi.
Padamu ada sangkal penuh muasal,
serupa ikhlas yang ditakar ingkar.
Sebelum ufukmu mencari rajah pada kening,
disisa doa bisakah kau kubur jalangnya waktu ?
Banda Aceh,30 Juni 2008