- KELUH
-
Sepeninggal malam
menyeruak keluh yg lantang
caci menjadi doa
pagi masih kepagian
tapi daun belenggu embun
hijau pengingkaran
sempit pada sempat
telaah titah
laju dikayuh tuju
ke langit buntu
waktu batu disihir kelu
peluh penuh keluh
diam tak tumbuh
Kutaraja, 18 Mei 2009
- KUKUBURKAN DIA SEBELUM PAGI
-
Dia kutikam tengah malam,
Seusai kekariban kami tak terbenarkan.
kuakrabi dia sebulan lalu, walau tlah kukenal dia bertahun lalu.
kami terjang menerjang tanpa kesumat
bertukar kilau belati, mencari tepi urat nadi
aku berdarah-darah, dia habis darah
dia mati muda, ketika dia ingin kekal di hati orang lain.
Jasadnya membusuk cepat sekali
Hingga tak sempat kukafani
Kukubur dia sebelum pagi jadi
kuburnya kubiarkan datar
Nisannya sebuah batu tergeletak,
tertulis nama ’si buruk sangka’
Kutaraja, 3 Mei 2009
- MANTRA KUPI
-
Seduhan tangan
Tapis menapis
Pekat memikat
Hitam didih, hitam suam
Cerita jilat menjilat
Siang menang
Malam juara
Waktu batu
Bual kental
Bibir nyinyir
Kaki saksi
Tangan makian
Terompah puan
Sepatu tuan
Paku di bangku
Bau menyaru
Hilang berasap
Nyalang datang
Tambah,tambah
Pancung kupi
Kutaraja Mei ’09
- LELAKI DI TEPI JENDELA
-
: Hendra Messa
Lelaki memilih jeda langkahnya.
Memuja mata jendela, menakar tiap pandang,
sampai uraian tajuk-tajuk kedalaman ayat menepi di ruang luas.
Lalu punuk-punuk kalam pada gunung, pada gurun, pada hamparan laku manusia rupa-rupa,
menjadi telaah resah yang mendaulat asa mengikat hakikat.
Lelaki memilah angin, di tepi jendela.
Menyusun hembusnya seksama, agar tak sesat nikmat dipuja.
Gumamnya “ aku hanya ingin sekoloni angin yang bisa mengantarku ke ufuk ikhlas..”
Terawang berganti di jendela nan tak serupa,
tatap bermuka-muka dengan serakan makna di kaki cerita.
Bergantian berisyarat, selanjutnya arif dipinta.
Lelaki menggenggam daya dan hikmat restu bunda,
mendaki puncak doa.
Jendelanya muasal kesahihan merasa,
tertera di sebenar mata.
Kutaraja, 15 April '09
( setelah membaca catatan Hendra Messa : Inspiring Story )
- BUTIR-BUTIR SUNYI
-
1
Debar yang menyangkut sehingga kini, ialah onak batu tak punya peduli.
Milik nyeri.
Senarai duga akan mata-mata semisal pedang kerap tertikam di ulu hati,
semenjak kaji tak kuulang di pangkal subuh.
Asa ini berlebihan di tepi juang.
Rapuh ketika takdir menyerang yakin.
Demikian gundah, seperti bah.
Hilir arah haluan, kemudi rasa berhantu menuju hulu.
Hai angin..dimana matimu, tak tersapa lagi olehmu layarku,
sedangkan dayung tersangkut di akar risau.
Aku tersungkur di riak kecilMu.
2
Hendak kutikamkan sajak itu pada karang baitMu,
semalam.
Tapi nadi berdenyut melambat setelah kubuat tuli telinga ini.
Hening mencari kawan.
Tak ada yang terdengar selain desahMu di bawah pejamku.
Lalu baris-baris kata itu leleh seperti lilin berapi besar,
tak adapun baranya, sampai menjadi beku datar sejajar telapak desah.
Ringkih ujarMu,
menjalari kesempitan yang kudekap sejak adil tak kutemukan di fana yang memerihkan niat.
APRIL ’09