Yahoo! 360° News | Beta Feedback
Start your own Yahoo! 360° page

Doel < Y! ID: doel1303 >

Top Page  |  Blog  |  Friends

Add

Doel is not connected to you in Yahoo! 360°.

Last updated Tue Jul 08, 2008 Member since February 2006

Total Page Views

4,516

jika kau seorang laki laki teguhkan hatimu menatap wajahNya yang menawan,karena wajahnya adalah kiblat manusia ( D 4311 )

1 - 5 of 101 First | < Prev | Next > | Last

Doel's Full Post View | List View

mencari jejak siratan ayat ayatMu

Aku, Bendera dan Risau
Benakku memuja bendera,
lambang juang yang berganti nama,
sehingga kini bala luruh tanpa daun ganja.

Ini asa bermuka-muka dengan resah.
Getarnya memuja kancah yang kubenci,
tempat aku dan saudara menafikan hati.

aku sedang mengungguli dendam,
kutunggagi hari dengan mata.
Demi risau, tatap berjanji untuk damai dalam gemuruh.

30 Agustus 2008
Tags: tentangaceh
Wednesday September 3, 2008 - 10:21pm (ICT) Permanent Link | 0 Comments
Pagi dan Rumah Seorang Lelaki

Rupa pagi di dinding beranda

Bergambar kisah paderi tanpa sesaji.

Langit muda di dahinya bertumpu di satu sudut tatap

Entah kutuk atau mantera yang tiba ketika asap dupa semu menggauli matanya

Ada tuju, ada laluan niat di tiap celah pintu

Ada kerontang yang menyusuri dedaun berembun

Angin pagi di syair jendela

Melirih memanggil, walau burung gagak berhasrat pergi.

Lagunya amsal belati,

Mencari nadi yang hilang denyut di kasur kapuk

Ketika nafas tak sepadan helaan

Ada ruang, ada sengal mencemari langit-langit

Ada lelaki yang acap mengukur ajal di rumahnya sendiri.

Banda Aceh, 27 Juli ‘08

Tags: tentangaceh
Wednesday August 20, 2008 - 10:19am (ICT) Permanent Link | 0 Comments
RINDU KE TUJUH
Ini yang ke tujuh, pada hari.
Hati bertali-tali menyusun rupa.
Segenap debar,tak berwaktu.
lebur,
Di ingatan yang berkali tersungkur.

Lewat malam, Kutaraja 8-8-08
Tags: kaji
Tuesday August 12, 2008 - 02:00pm (ICT) Permanent Link | 0 Comments
ARUNG

ARUNG
: Rahmalia

pelayaran ini disahihkan matahari
kepak-kepak camar bermain sinar
terik ikat-mengikat demi hati
seusai ikrar yang tak bisa ditakar

tak adapun reruntuhan ombak sebagai aral
dan palung-palung adalah syair laluan niat
dimana tembang kedalaman tak pernah disangkal
kemudi menyanyikannya dalam hakikat

kemudian badai, temaramkah mendungnya ?
bila kita memainkan dawai-dawai angin
sembari bersiul lagu cinta yang gempita
lalu senyawa peluk menghambarkan dingin

jauh, lautan sudah terduga
nusa-nusa singgahan kita puisikan
dalam biduk marwah yang terjaga
hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan

Banda Aceh, 1707 ‘08


Sajak ini mendapat banyak tanggapan/kritikan saat dimuat di Warung Puisi, awalnya karena ada yang menganggap terlalu tradisional dan menganut ( tidak jujur ) gaya puisi lama dengan kosakata melayu yang dominan. Namun akhirnya menjadi ajang diskusi yang menarik karena terjadi diskusi panjang antara para penyair atau penikmat puisi yang ada di Warpus.

Padahal puisi ini sebenarnya puisi yang aku dedikasikan buat istriku tercinta, Rahmalia, sebuah ungkapan yang lebih untuk memotivasi aku dan keluargaku tentang sebuah 'pelayaran' yang sedang kami diarungi, dimana banyak ombak, palung, bahkan badai yang bergilir mencari kekokohan tiang-tiang layar kita.

Berikut apresiasi puisi yang ditulis oleh Dedy Tri Riyadi untuk puisi ini :

Reply by Dedy Tri Riyadi on July 25, 2008 at 9:57am

Sebuah Penjelahan Masa Lalu
untuk Hari-hari Perjalanan Panjang
ke Depan


ARUNG
: Rahmalia

pelayaran ini disahihkan matahari
kepak-kepak camar bermain sinar
terik ikat-mengikat demi hati
seusai ikrar yang tak bisa ditakar

tak adapun reruntuhan ombak sebagai aral
dan palung-palung adalah syair laluan niat
dimana tembang kedalaman tak pernah disangkal
kemudi menyanyikannya dalam hakikat

kemudian badai, temaramkah mendungnya ?
bila kita memainkan dawai-dawai angin
sembari bersiul lagu cinta yang gempita
lalu senyawa peluk menghambarkan dingin

jauh, lautan sudah terduga
nusa-nusa singgahan kita puisikan
dalam biduk marwah yang terjaga
hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan

Banda Aceh, 1707 ‘08


Sajak ini ditulis sebagai dedikasi untuk seseorang. Kemungkinan besar akan mengutarakan perasaan si penulis terhadap orang tersebut. Tetapi tidak salah jika ada kata "kita" di sana bisa juga diibaratkan si pembacalah yang ingin diajak penyair sajak ini dalam perenungannya.

Garis besar dari sajak ini berbicara mengenai perjalanan, dalam hal ini adalah perjalanan lewat laut atau sering disebut pelayaran. Pada bait pertama dijelaskan bahwa pelayaran ini disahihkan matahari, diibaratkan bahwa perjalanan ini sudah menyerupai hari-hari itu sendiri, karena hari itu ditentukan dengan terbitnya matahari, bukan? Tapi sebelumnya, lihatlah betapa penyair berusaha keras menjaga bentuk keseluruhan puisi ini dalam bait-bait yang teratur rimanya a-b-a-b, c-d-c-d, e-f-e-f, g-h-g-h. Ini menunjukkan keseriusan si penyair untuk memanfaatkan alat-alat puitika.

Kembali ke bait pertama, bahwa dalam hari-hari perjalanan "aku lirik" ada pengertian yang didapat olehnya bahwa "terik" yang terjadi pada hari-hari itu justru merekatkan ("ikat-mengikat") hati si "aku lirik" dengan "dia" yang untuk itu sajak ini ditujukan. Larik "kepak camar ..." agaknya dijadikan semacam "kembangan" hanya untuk menyambung "sesuai ikrar ..." itu. Jika kedua larik ("kepak camar..." dan "sesuai ikrar...") dihilangkan, sebenarnya bait pertama itu sudah cukup jelas dengan dua larik yang lain ("pelayaran ..." dan "terik...").

Bait kedua memperjelas dan mempertegas kondisi di bait pertama, bahwa ternyata tidak cuma terik hari saja, tetapi "ombak" dan "palung laut", yang biasanya menjadi kekuatiran seorang pelaut, ternyata memang itu suatu keharusan ("hakikat") yang harus terjadi dalam sebuah pelayaran. Bahkan si aku lirik menganggapnya seperti "tembang", seperti "nyanyian" yang sangat bisa jadi bermakna hiburan.

Bait ketiga masih penegasan dari bait pertama, hanya intensitas perasaannya lebih di"tajam"kan lagi, jika dalam sebuah cerita inilah "klimaks"nya. Ada sebuah "badai" dan si "aku lirik" justru meminta "dia" (atau kita yang diajak bicara dengan sajak ini) untuk membesarkan hati bahwa bukan "badai" yang tengah melanda tetapi sebenarnya "kita memainkan dawai-dawai angin" bahkan saat "badai" melanda, si aku lirik mengajak "bersiul lagu cinta yang gempita" karena hal-hal tersebut akan membuat sebuah "senyawa peluk" untuk "menghambarkan dingin."

Bait terakhir mengambarkan sebuah kepasrahan yang mendalam ("hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan") dalam menghadapi semua yang ada baik itu lautan yang sudah disebutkan ada "terik", "ombak", "palung" dan "badai", ataupun persinggahan-persinggahan (bisa jadi ini semacam pengalihan perhatian) yang berupa "nusa-nusa" yang "dipuisikan". Hal itu semua akan bisa terjadi jika (ini permintaan dari si aku lirik) menjaga "biduk marwah."

Terlepas dari penggunaan kata-kata yang biasa terdapat dalam sajak-sajak melayu, ataupun "ke-terlalu taat-an" penyair menjaga rima yang a-b-a-b itu, sajak ini termasuk sajak yang menganut pengertian "utuh dan kompleks" dalam mengemasnya. Sehingga "pesan" di dalam sajak itu tersampaikan dengan baik kepada pembacanya. Bagi saya sebagai penikmat sajak, sajak semacam ini cukup enak diterima dan tidak tertele-tele.

Salam,

Tags: puisidanapresiasi
Monday July 28, 2008 - 06:00pm (ICT) Permanent Link | 0 Comments
Kepada Juli


Anginmu, ialah lagu yang kutakzimkan.
Pagi-pagimu tlah terhitung dengan embun pada carik-carik daun,
tigapuluh satu helai, tanpa andai.
Walau hari masih ditahbiskan naifnya mimpi.

Padamu ada sangkal penuh muasal,
serupa ikhlas yang ditakar ingkar.
Sebelum ufukmu mencari rajah pada kening,
disisa doa bisakah kau kubur jalangnya waktu ?

Banda Aceh,30 Juni 2008

Tags: kaji
Tuesday July 1, 2008 - 03:12pm (ICT) Permanent Link | 3 Comments

Add Doel's to your personalized My Yahoo! page:

Add to My Yahoo!RSS About My Yahoo! & RSS
1 - 5 of 101 First | < Prev | Next > | Last