we are taught how to describe our ideas clearly and correctly, but we are rarely taught how to describe our feelings clearly and correctly ~ Johnson 1981
we can not become what we need to be by remaining what we are
”Tapi bukankah semestinya tak ada yang tahu kita bertemu?”
”Biarkan saja. Anggap mereka hanya iri bahwa kita bisa berdua tanpa malu-malu.”
”Ya, ya.. toh kita bukan selingkuh”.
(oh bukan?)
“Kalau pun ada yang mengira selingkuh, kita nikmati saja”
(hmm..)
.
Sore itu kita bertemu.
“Aku sudah putus dengannya”
”oh ya?”
”Ya. Aku juga tak menyangka dia memutuskan aku”
(owh?)
.
Mendadak pertemuan itu terasa tak sempurna
.
.
.Mei09
Kita bertemu pada
takbiratul ihram
malam itu langit
hitam muram
.
Punggung yang lengkung,
telah kita coba ratakan
: ada tarikan yang nyata
di kaki-kaki kita
.
Kau rapatkan keningmu
pada keningku
tapi bibir kita masih terlalu jauh
untuk saling menjangkau
, kurasa hidungku terlalu lekat
hingga tanah tercium
basah
.
Senyap sungguh tuma’ninah
ah, adakah sekali saja
kita saling memanggil
dalam diam?
.
Ini bukan tahiyat
yang kita singgahi
berkali-kali silam
kesaksianmu tergantang
di simpul yang lerai
.
Ada yang tak tertebak
menjelang salam
: apakah kanan dengan kiri
saling mengenal?
.
.
.April09kita menghadapi
musim:
.
hujan di luar berlari di atas
atap rumah.
di dalam, kita
menyembunyikan gerimis,
menghitungnya perlahan-lahan.
.
Ada tangan-tangan
mengulur ke luar jendela,
menampung segala musim,
menumpahkan isinya
ke halam rumah kita
.
Kita punguti satu persatu
musim yang tumpah itu.
lalu gerimis,yang kita tulis
berlembar-lembar,
menjadi suara yang begitu ingin
kita dengar
.
.
Mar09Mar09